Wanita itu Menunggu



"... Nggak perlu kata-kata, gue rasa dia juga tahu gue suka sama dia. Kami bergandegan tangan, peluk-pelukan, sudah biasa ..."

Sekali dalam hidup, saya mengenal pria yang seperti itu. Saya menyukainya. Pun sebaliknya dia. Kami menghabiskan waktu di telepon, bercerita, saling mendukung, dan saling memberi perhatian. Saya sungguh jatuh cinta pada dia. Mungkin dia juga. Saya menduga-duga, takut prasangka saya salah. Saya menunggu. Sampai yakin betul perasaan saya tidak salah. Dia masih dengan perhatiannya yang lebih walau kadang menghilang dan kembali lagi. Membuat keyakinan saya semakin tak pasti.

Saya bilang tak ada wanita yang suka mendahului. Kodrat wanita itu menunggu. Sampai betul dia dengar isi hati pria yang dia sukainya, semuanya hanya pengharapan. Pria itu menimbang perkataan saya. Mengukur argumennya untuk beralasan.  

"Buat wanita, terutama tipe sentimental seperti Audy, kata-kata itu emas, lho. Gue tahu, mungkin lo beranggapan bahwa satu genggaman sudah melakukan tugasnya nyampein perasaan dari hati-hati. Tapi, buat kami para wanita, selama pria belum ngomong, kami belum tahu pasti maksud yang tersirat."
"... Sebelum pria menatap wanita dengan sungguh-sungguh, dan mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata kepada si wanita, yang dikira cina itu hanyalah udara kosong."
Pria itu menarik napas dalam. Membalik ingatannya empat tahun kebelakang. "Tak ada keraguan. Perasaan kita sejalan" ujarnya penuh keyakinan. Begitulah pria itu mengakui perasaannya di sebuah hari baik di bulan November. Dialah kekasih saya, Didid.


Xx



(Dikutip dari novel Sunset Holiday karya Nina Ardianti dan Mahir Perdana)  

Share:

0 comments

Any Comment?