Helios



Helios selesai menyantap sarapannya pagi itu. Dua telur mata sapi dengan sweet potato panggang dan segelas teh panas cukup memenuhi perutnya. Tapi tidak dengan tubuhnya yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa dengan semua makanan yang disantapnya. Tubuh kurusnya yang dianggap tidak normal untuk seorang lelaki nyaris jadi nyinyiran banyak orang. Orang-orang itu merayunya. Pura-pura mau memberinya makan. Helios hanya tersenyum, tau bahwa lelucon itu sudah tidak menarik lagi untuk dihiraukan. 

Pagi itu Ia melirik cermin di samping rak buku. Kemudian menyadari ada sesuatu yang janggal di kepalanya. Bagian kiri kepalanya nyaris tidak ditumbuhi rambut. Ayahnya yang lewat di belakangnya berkata bahwa bisa jadi itu efek karena Helios adalah seorang terpelajar yang menghabiskan waktunya dengan membaca dan berpikir. Helios setengah tidak percaya karena tau ayahnya suka ngawur. Setengahnya juga percaya karena Ia banyak melihat profesor yang sebagian kepalanya tanpa rambut.

Tapi Helios bukan seorang profesor.

Helios bertanya-tanya siapa dia sekarang? siapa dia nanti? Ia merenung lagi juga cemas. Ia telah berjalan begitu jauh lalu mendapati tak ada apapun di ujung jalan. Ia ingin mengeluh. Peluh itu masih tersisa. Terasa asam bau tubuhnya yang kelelahan. Napasnya masih tersengal. Ditempatnya kini berdiri adalah titik peristirahatannya.

Di pekarangan rumahnya, Helios memandangi ayahnya yang sedang susah payah membersihkan rumput. Lalu berbalik arah dan tersenyum padanya. Ingin Ia membantu, tapi ayahnya tak suka Helios ikut bersusah payah. Helios, seorang yang mencoba menjadi anak lelaki terkuat itupun mulai menyadari dirinya adalah sosok jiwa yang lemah. Ia butuh sandaran. Ia rindu pelukan.

Share:

0 comments

Any Comment?