Desember 20, 2014

Apa yang Di Tangan, Apa yang Di Hati



Sabtu pagi. Saya bangun lebih awal sebab tidur lebih cepat dari jam tidur dihari biasa. 

Diantara kekosongan suara orang-orang yang masih bersembunyi dibalik selimut, masih ada bau-bau sisa hujan semalaman masuk dari jendela. Sabtu kali ini terasa lebih ringan, hampa – kosong. Tak ada agenda apa-apa. Tak ada janji, meeting, dan acara. Menyenangkan juga merasa kesepian. Tanda bahwa saya akan menghabiskan waktu sehari sendirian, di rumah atau perpustakaan.

Saya bangun dan kepikiran pada hal-hal kecil. Cucian yang menumpuk seminggu dan blog yang tak pernah ditulisi. Tapi yang lebih memenuhi kepala adalah, hubungan saya denganNya. Rasa syukur yang semakin berkurang saban hari. Sepi membuat saya serasa dipojokkan. Cih, lagi-lagi urusan dunia kerap kali menjauhkan jarak kita padaNya.

Saya melirik pada tumpukan buku yang tertimpa sinar lampu tidur. ‘Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk’. Judul buku itu tak sekedar terbaca, tapi juga terucap lirih. Mom membawakan buku itu saat berkunjung ke Jogja dua bulan lalu, mungkin maksudnya ingin menasehati dengan cara halus. Bahkan sibuk pun membuat saya belum menyentuhnya sama sekali.

Buat apa IPK tinggi-tinggi, banyak rezeki, punya teman disana-sini, bisa nongkrong dan makan sesuka hati tapi jadi tak tau diri? Lupa kita berpijak pada bumi siapa? Lupa pada siapa yang memberi semuanya? Naudzubillah…

“Ya Allah, jadikanlah dunia di tanganku, dan jadikan akhirat di hatiku.”
(Abu Bakar Ash-Shiddiq)

Desember 18, 2014

Sesuatu yang Bisa Kita Pelajari dari ‘The Hobbit: The Battle of The Five Armies’





“Kamu bisa menonton film kapanpun. Pulang kuliah sekalipun”.

Saya bukan tipikal orang yang suka menonton film, apalagi di bioskop. Bukan bagian orang-orang yang harus nonton premiere. Saya masuk golongan orang yang mikir ‘buat apa ngerepotin diri ngantri tiket buat nonton film di bioskop kalau entar juga muncul di TV?’ Atau ‘Paling seminggu lagi keluar bajakannya’. 

Saya hanya pergi ke bioskop sekali dua kali dalam setahun. Biasanya karena tidak tahu lagi harus kemana dan karena alasan filmnya berkomen ‘Bagus Banget’ dan ‘Recommended’. Seperti kali ini, selesai kelas Islamic thought and civilization yang cukup asik, bersama dengan Uli saya pergi ke Jogja City Mall untuk nonton film terakhir trilogy ‘The Hobbit’ The Battle of The Five Armies yang baru dua hari tayang setelah sebelumnya ngurus ATM yang keblokir ke Bank (tapi ini cerita lain). Seperti dugaan, antreannya panjang dan semua memesan bangku untuk menonton The Hobbit.

Saya termasuk fans berat J.R.R Tolkien dan J.K Rowling. Keduanya adalah orang-orang cerdas. Tolkien, kalau saya bilang dia itu salah satu ahli linguistik. Saya (kecil) pikir bahasa Elf itu ada, ternyata itu bahasa fiktif yang diciptakan oleh Tolkien. Atau bagaimana cerdasnya J.K Rowling mengkombinasikan bahasa inggris dan latin untuk membuat ucapan-ucapan mantra dalam serial harry potter.

Kembali ke petualangan ‘The Hobbit: The Battle of The Five Armies’, film ini dibuka dengan visual keren sang naga penjaga harta yang membakar habis desa danau. Film ini berdurasi hampir dua setengah jam, dan nyaris sepanjang film yang kita saksikan adalah peperangan. Tapi jangan khawatir, efek visual film ini cukup memuaskan. Ada pula disisipkan beberapa scene lucu dari seorang Alfrid - mantan wakil kepala desa danau,  dan tentu saja menyenangkan melihat Legolas beradegan epik padahal karakter dia sama sekali tidak ada di dalam novel.

Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari film ini.

- Kita tak bisa dengan mudah menemukan seorang sahabat sejati tanpa sebuah petualangan bersama. Teman yang sesungguhnya bukan ia yang mendukung semua keputusanmu, bukan pula yang tak pernah mengkhianatimu. Teman yang sejati adalah ia yang berani mengkhianatimu untuk menunjukkan padamu sebuah kebenaran.

- Jika sesuatu itu menyakitkan, maka itu sesuatu yang nyata. Seperti kehilangan. Kehilangan yang menyedihkan adalah ketika Tauriel harus kehilangan Kili yang terbunuh karena mencoba melawan Orc. Cinta seorang Elve kepada manusia tak benar nyata dan abadi, tetapi kehilangan yang menyakitkan, jelas cinta itu ada, nyata. 

- Saya menyukai cara Legolas mencintai Tauriel. Sederhana, namun dengan cara seorang ksatria. Bukan pula sok kuat merelakan Tauriel mencintai Kili. Caranya menatap dan melindungi Tauriel, sudahlah cukup membuat saya tersenyum iri.

- Berdiam diri dan membiarkan keluargamu bertarung mempertaruhkan nyawa untuk menyelematkanmu adalah sesuatu yang dilakukan oleh seorang pengecut. 

- Harta tak cukup mampu membuat seseorang bahagia. Ambisi untuk memiliki dan menguasai hanya akan melelahkan diri untuk berusaha melindunginya sebab selalu dihantui kecemasan akan kehilangan. Sebuah penyakit yang sempat menyerang Thorin, sang raja kurcaci di kerajaan erebor, sampai akhirnya tersadar bahwa keserakahannya hanya membuatnya terlihat lebih rendah dari sebelum ia menemukan harta peninggalan leluhurnya.

- Harta juga menimbulkan peperangan tanpa henti. Lucu melihat bagaimana pasukan-pasukan dalam film ini berperang memperebutkan bagian harta mereka. Elf yang berperang untuk mengambil peninggalan leluhur mereka, Manusia yang meminta bagiannya untuk kesejahteraan hidup mereka setelah terkena bencana, para kurcaci yang melindungi harta mereka dan Orc yang tiba-tiba datang menyerang.

- Tindakan dari hati akan sampai ke hati. Begitulah cara sahabat-sahabat Thorin mencoba menyadarkannya dari penyakit 'gila harta'. Disentuh hatinya, dengan arti keluarga dan persahabatan. 

- Walau sedikit tidak masuk akal ketika tak lebih dari 15 orang kurcaci pasukan Thorin mencoba mempertaruhkan diri dan berperang melawan ratusan atau bahkan ribuan pasukan elf dan manusia ditambah orc, namun bisa dilihat bagaimana semangat -sebuah kata singkat dapat bermakna hebat- dapat meningkatkan semangat juang dan berbuah pada kemenangan. Setidaknya kemenangan melawan ego diri sendiri.

- The Hobbit mengajarkan pula bahwa sejauh mana kamu pergi berpetualang, rumah dan kampung halaman tetap akan menjadi tujuan akhir untuk pulang. 13 bulan berpetualang mencari harta karun dan ikut berperang, Bilbo Baggins tetap kembali pulang ke Shire. 


Semoga kalian lebih menemukan banyak hal lainnya setelah menonton. Xoxo

Desember 03, 2014

We are not (g)one. We are one!


Ada yang pergi karena merasa lelah, diperlakukan tak adil, dan diapresiasi seadanya. Lalu muncul pertanyaan: ‘We are one’ atau ‘We are out one by one?.’

Mari saya dongengkan kisah mereka. Ada dua kisah. Yang satu pergi dengah pongkah seperti ‘pengkhianat’. Jika dikisahkan dongeng, ibarat sepasang kekasih yang sudah menyebar undangan dan siap menikah, Ia pergi bak calon mempelai pria yang meninggalkan pasangannya seminggu sebelum hari H-pernikahan. Ia pergi tanpa pesan, kabur membawa rencana-rencana ambisiusnya yang telah Ia rancang kala sibuk mempersiapkan pesta. Apa yang terjadi pada si calon mempelai wanita? – bingung, bertanya-tanya, frustasi, dan tentu saja kecewa.  Yang kedua pergi dengan alasan tak jauh berbeda. Hanya saja memilih waktu yang ‘tepat’ dan memilih untuk mendiskusikan keputusannya. Sebab itu ia tak disebut ‘pengkhianat’. Kalau diibaratkan seorang kekasih, Ia pria yang memutuskan hubungannya dengan bilang ‘Aku bosan. Aku lelah dengan hubungan kita. Aku ingin kita sampai disini. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa bersamamu lagi’. Hell? Yeah.

Sayangnya ini bukan kisah sepasang kekasih yang ditinggal dan meninggalkan. Mereka bukan dua pria yang meninggalkan masing-masing gadisnya. Mereka adalah dua diantara dua belas mimpi  yang terdampar di bumi untuk membuat sejarah bersama. Mereka yang pergi mungkin memutuskan untuk membuat sejarahnya sendiri. Mungkin lelah-lelah dalam kebersamaan tak ada artinya bagi mereka. Mungkin bahagia mereka adalah meninggalkan, melepaskan beban dan melimpahkannya pada yang lain. Itu membuat mereka bahagia. Bukankah semua orang punya hak untuk bahagia? Bukankah semua orang punya hak untuk bebas lepas?. Lalu bagaimana dengan sisa mimpi-mimpi yang lain? Tidakkah mereka juga sama-sama lelah?

Disisi lain, di gegelapan yang selalu tertinggal dan dihantui dugaan-dugaan ada pertahanan. Dalam gelap, teriakan ‘We’re not g(one)’ bersautan dengan tangisan juga kebingungan. We are not one! Apa arti ‘satu’ dengan hanya sepuluh mimpi? Bukankah satu adalah dua belas ‘mimpi’ yang terus berjuang bersama. We are not gone! Yang bertahan dalam kegelapan tak ingin ikut menjadi ‘pengkhianat’. We’re not out one by one. We are not gone. We are ONE! L.


Xoxo.