Agustus 25, 2014

A lady from Modern Times




Modern Times. Sebuah film layar lebar era 1930-an yang diperankan oleh aktor nyentrik, Charlie Chaplin. Ia dikenal lewat perannya sebagai Chaplin the tramp dalam setiap film bisunya. Film ini berkisah tentang kehidupan sosial warga Amerika Serikat di tengah hangat isu mengenai masalah pekerja dan sistem Kapitalisme yang berpengaruh pada nasib buruh disana kala itu. Nyaris 100 tahun kemudian seperti ingin menuangkan kerinduan, era modern times dibungkus penuh harmoni oleh ex Korea’s ‘nation little sister’, IU.

IU pada awal kemunculannya seperti membawa pendengar musiknya bermain dalam sebuah taman fantasi. Gaya nya yang cute dengan vokal 4 oktaf  yang luar biasa selalu membuat saya takjub setiap mendengar dia bernyanyi diiringi musik orkestra yang mewah; sebut saja dalam lagu last fantasy, you and I dan good day. Namun imej cute itu seolah gugur dalam album Modern Times. Lupakan music pop dance ala K-Pop, klasik dan iringan orkestra yang wah. Bersama musiknya, IU telah tumbuh menjadi wanita dewasa and become more classy dalam balutan musik Swing Jazz dan Bossa.

Musik jazz dengan irama vulgar dan bebasnya yang selalu lekat dengan sebutan musik kaum elite ini seperti pas untuk mewakili sosok wanita dewasa era modern times yang digambarkan sebagai wanita mapan yang mengerti fesyen, bergincu merah dan seksi. Dan ketika album modern times terdengar dengan suara IU yang nakal dan menggoda, seketika latar berubah menjadi hitam putih. Saya duduk sendiri dalam sebuah bar, berubah menjadi wanita dengan gincu merah diantara kerumunan pria bertuksedo dan wanita-wanita dengan dress dan gincu merah menyalanya. Mereka beradu tawa, mungkin juga sembari menikmati segelas chardonnay. Ditengah-tengah kami, IU menyanyikan between the lips dilanjutkan dengan Everybody has secrets dengan berani.

Tiba-tiba sosok Chaplin the tramp muncul dalam lagu modern times. Kali ini ia tak membawa tongkatnya. Hanya bertepuk tangan gembira. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling saya sukai. Dan hal yang saya tangkap dari lagu yang menyebut nama Mr. Chaplin pada bait liriknya ini adalah dalam suasana yang ceria sekalipun orang dapat merindu diam-diam.

Pria yang duduk di seberang yang sedari tadi melempar senyum tampak mendekat. Sebelum tiba-tiba berbelok dan menghilang. Ketika merenungi pria itu, the red shoes membawa saya ikut menghentak-hentakkan kaki. Lagu ini kemudian mengajak saya lari dari kesepian. Mungkin seperti berkaca atau sedang melihat pantulan diri sendiri. Saya wanita yang lebih berani untuk jatuh cinta. Bukankah ditempat seperti ini pria dan wanita boleh jatuh cinta dalam sekali pandang? Mungkin the red shoes akan membawa saya padanya. Hentakan spontan yang muncul dari saxophone terus membuat saya melangkah, semakin cepat. Mungkin jatuh cinta biasa se-spontan itu.

Pada lagu-lagu berikutnya, saya seperti berkomunikasi dengan piano, gitar, drum, saxophone, atau sekedar suara bisikan. Lagu lainnya membiarkan saya ikut larut dalam suasana  Amerika, perancis atau venice pada tahun 1930-an. Siapa yang tau ada rasa kehilangan di setiap petikan gitar Love of B. Seperti sebuah rasa yang aus karena basi – atau bisa jadi bosan.


IU seperti menyuguhkan sebuah drama berkelas dalam Modern Times. Mendengarkan keseluruhan lagunya seperti menyaksikan wanita dewasa merayakan patah hati dengan damai dan elegan. Seperti Obliviate yang serupa mantra untuk melupakan luka. Serangkaian lagunya terus berulang – Nakal dan spontan!

Agustus 19, 2014

Mungkin Saya yang Tak Sabar tanpa Kabar


Seharian ini lantunan musik Ebiet G. Ade terus berputar di music player laptop. Delapan lagu dari album best of the best diulang-ulang. Kasihan, suaranya sudah payah karena lelah. Kata orang lebaran merupakan momen tepat untuk kembali fitrah karena maaf sedang diobral besar-besaran. Ini tentu saja sudah lewat beberapa minggu dari lebaran dan tetiba kepikiran; mungkin saya perlu meminta maaf juga pada orang-orang tanpa kabar yang saya kenal. Seperti sahabat, orang-orang lain yang saya tahu dari sebuah nama, atau mungkin juga kamu.

Saya suka menjadi tak sabaran tanpa kabar. Saya tak tau ada berapa banyak orang diluar sana yang menjadi tak sabaran tanpa kabar seseorang. Saya berpikir, mungkin ada alasan-alasan kenapa manusia tak lagi bertukar kabar dengan manusia lain. Seperti sibuk yang selalu jadi alasan nomor wahid, atau mungkin kita tak lagi masuk dalam ingatan mereka untuk dikabari? Mungkin memang saya yang tak sabar tanpa kabar.

Agustus 12, 2014

LEPET dan LUPUT

Ramadhan sudah berlalu. Dan banyak hal yang saya rindukan dari bulan yang malam dan siangnya adalah ibadah itu.

Ada satu tradisi di kampung halaman saya, Kendal, yang mana setiap warganya akan mengantarkan lontong lengkap dengan lodehnya, jajanan, dan lepet kepada tetangga dan kerabat dekatnya.  Saya tidak tahu pasti disebut apa tradisi yang semacam hantaran ini kecuali pelaksanaannya disetiap minggu terakhir bulan Ramadhan. Mbah saya termasuk yang paling rajin dan rutin mengadakan tradisi ini. Dan saya akan kebagian tugas membantu membungkus dan mengantarkan ke kerabat jauh.

Waktu kecil, saya tidak ambil pusing dengan tradisi ini. Tapi semakin bertambah usia, saya bertanya-tanya apa tujuan tradisi ini? Kenapa repot-repot menyiapkan bungkusan, membuat lontong, membeli jajanan ini itu? Kenapa pula harus menyandingkannya bersama dengan ketan yang dicampur parutan kelapa, memasukkannya dalam lipatan janur kuning (yang kemudian disebut lepet ketan) dan mengantar-ngantarkannya ke semua tetangga dan kerabat yang bahkan tinggal di kampung sebelah?

Gambar Lepet Ketan oleh Aryo
Menurut cerita papa dan mbah, tradisi ini dianggap sebagai wujud permohonan maaf atas segala luput dan kesalahan si pemberi. Lepet yang mana rasanya gurih itu diumpamakan seperti ‘luput’ atau kesalahan. Jadi ketika ada hantaran berisi lepat diharapkan agar penerima memaafkan segala salah si pemberi.

Meski bukan kewajiban, tradisi ini masih cukup banyak dilakukan para warga. Tidak heran kalau musim hantaran di bulan ramadhan banyak lepet, lontong, dan aneka jajanan di dapur. Bagi saya sendiri, tradisi ini menjadi sebuah kesempatan bersilaturahmi dan berbagi rizeki. Alhamdulillah, buka puasa sudah ada banyak makanan dari tetangga dan kerabat J

Agustus 01, 2014

Bicara Tentang Runtutan Garis Keluarga


It's been long time since my last post yaaa, dan sudah lewat dari ramadhan dan idul fitri. Eniwei, minal 'aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. I hope all of you have a joyfull time with your family. Aamiin.

Bicara lebaran, ini kali ketiga saya tidak merayakan lebaran di Batam dan menghabiskan hampir dua minggu liburan di tempat mbah which mean there's nothing to do in here exactly. Kecuali, berkunjung dan menghabiskan waktu sharing dan bercerita ngalur ngidul bersama Meyta (teman masa kecil sekaligus keluarga saya) yang kalau secara garis keluarga adalah tante saya. Makanya saya memanggilnya Lek Meyta. Padahal kita seumuran. Malah saya lebih tua sebulan dari dia :D

Tradisi keluarga saya untuk urusan garis keturunan dan tata krama penyebutan sangat kental. Jika meruntut pada garis keluarga Ibu, saya tergolong urutan muda. Tak jarang anak-anak kecil dari keluarga ibu yang baru berusia 5 tahun akan memanggil saya dek. Bahkan Om dan Tante saya adalah anak-anak seusia 10-17 tahun. Di momen kumpul keluarga seperti lebaran begini, hal tersulit bagi saya adalah menghafal siapa saja daftar keluarga saya. Saya yang cuek dengan runtutan garis keluarga ditambah lebih banyak mengasingkan diri di Batam, sering keblinger bagaimana memberikan embel-embel sebutan di depan nama mereka sebagai bentuk tata krama. Ada yang perlu saya sebut mbah, yai, nyai, lek, pakde, bude, bla bla bla. Jangankan sebutan, tahu semua nama-nama mereka saja saya ragu. Hehe

Coba bayangkan. Ibu saya punya ibu yang saya sebut mbah. Mbah saya memiliki tiga saudara yang sudah menikah dan tentu saja ketiganya harus saya panggil mbah. Saya mendapat mbah lain dari suami dan istri saudara mbah saya. Jadi ada sekian mbah yang saya punya jika meruntut pada garis keluarga  Mereka punya anak kira-kira 3 sampai 5 yang menjadi tante, om, pak de dan bu de saya. Dan begitulah terus menerus bercabang sampai kemana-mana yang pada akhirnya semua adalah keluarga. Pusing? Jelas. Lalu bagaimana dengan kalian?

Juni 12, 2014

Muara Yang Dituju

Pada sungai, kamu akan menemukan jeram dan arus diam. Arus diam membiarkanmu bersantai, sedang kamu perlu kekuatan ekstra untuk mengarungi jeram-jeram. Berani jatuh, berani basah, and dare to take a risk. Begitupun dalam hidup. Sometimes, you feel at ease in your comfort zone. Sometimes, you need more struggling to survive. Tak ada istilah just let it flow. Tak ada istilah ikuti arus bermuara. Kamu tak perlu mengikuti arus jika tak tau kemana muaranya, seperti kamu tak bisa mengikuti langkah orang lain yang kamu sendiri tak tau kemana tujuan hidupnya.
(Oleh-oleh dari diklat Marcomm - dan kisah diatas boat with Firna, Kano, Desy, Rifky)

April 27, 2014

Macam Tak Pernah Kenal

Lucu jika melihat apa yang 'sebuah waktu' bisa lakukan pada kita - manusia.

Dia mempertemukan kita dengan orang-orang yang bahkan di detik sebelumnya tak pernah kita duga akan bertemu dengan mereka.

Di suatu detik lain, dia mengasingkan apa yang sudah menjadi kebiasaan. Menjauhkan sepasang teman dekat. Membuat keduanya hampir seperti tak pernah saling mengenal.

Lalu, kita akan menjadi penantang. Kita masih akan terus tertawa kala waktu lebih sering menertawakan hidup kita. Mungkin sampai ia tak punya kuasa mengadili waktu kita lagi.