September 05, 2014

Jika Kamu adalah Pagi


Jika kamu adalah pagi, maka aku akan bersembunyi dibalik pelukmu.
 Dadamu hangat, pelukmu makin erat.

Jika kamu adalah pagi, 
maka aku akan meneguk pahit dari pinggir bibirmu. 
Mengisapnya dengan pelan sebelum pergi mandi.

Jika kamu adalah pagi, maka candamu yang muncul dalam kotak komedi. 
Aku menatap padamu yang berlari kesana-kemari menarik perhatianku untuk tidak pergi mandi.

Jika kamu adalah pagi, detakmu adalah alarm Penuh rayu. Mandiku jadi terburu-buru.

Jika hari ini kamu adalah pagi… 
Ah, aku bangun kesiangan!! 
Kamu telah pergi. Aku ditinggalkan pagi.


September 03, 2014

Cinta Pada Realita tak Sedramatis Bait-bait Puisi Kita



Aku ingat pernah bertukar sajak pada pria yang begitu ku kagumi di bawah langit yang berbeda. Langitku gelap, dihiasi gemerlap bintang dan bulan yang nyaris separuh penuh. Disana langitnya terang diselimuti awan berarak. Aku berdiri di bibir pantai dengan hanya deburan ombak yang terdengar dan dia (kukira) sedang duduk diatas rumput halaman kampusnya, berteduh dibawah rindang pohon yang sejuk.  Tempat favoritnya kalau menyempatkan waktu untuk chatting dan video call-an bersamaku.

Sajak-sajak yang ku kirimkan padanya selalu dramatis, dan dia yang aku tahu tak begitu menyukai dunia penuh kata-kata mencoba membalas sajak-sajak itu dengan payah. Kami bicara alam, bicara cita, bicara manusia, bicara cinta. Makin lama sajak-sajak itu memenuhi kotak pesan, berubah menjadi puisi dan antologi yang tanpa kami duga bait-bait dramatis itu kelak akan kami kenang lewat senyum kala membacanya kembali. Mungkin saat perasaanku sudah seperti semak-semak tak terurus, mungkin juga saat kami sudah lupa pada siapa bait-bait puisi itu ditulis.

Pada liburan musim panas empat tahun lalu pria itu pulang. Saat itu dia sudah duduk di tahun terakhir kuliahnya. Kupikir Ia pulang untuk menemuiku, tapi kukira Ia tak sungguh-sungguh pulang. Ia bahkan tak menghubungiku nyaris satu bulan sebelum kepulangannya. Andai temanku tak memberitahu, mungkin aku masih mengiriminya pesan tengah malam supaya sempat dia baca ketika tidak kuliah, atau mengiriminya pesan siang bolong hanya untuk mengucapkan ucapan selamat pagi dan embel-embel penyemangat lainnya. Walau jelas hal itu hampir jarang kulakukan karena diriku yang mulai frustasi tak mendapat respon apa-apa.

Beberapa kali kukirimi dia pesan. Aku merengek memintanya untuk bertemu. Mungkin sudah lelah, dia memberikanku sebuah alamat lengkap dengan waktunya. Pada pertemuan sore itu Ia berpenampilan rapi seperti waktu terakhir aku ikut mengantarnya ke Bandara. Pria itu hanya tersenyum tipis saat aku dengan begitu ceria melambaikan tangan padanya. Tak banyak yang kami bicarakan. Dia hanya menanyakan kabar sekolahku (tanpa bertanya kabarku) dan menanyakan kabar kedua orang tuaku. Dia juga bercerita ngalur ngidul tentang project akhirnya yang tak ku mengerti. Aku sedih dia sama sekali tak membahas hujan, payung, pasir, rindang pohon, dan segala hal dalam sajak-sajak kami.


Perbincangan kami sore itu ditutup dengan saling mendiamkan. Semenit kemudian dia menghentikan sebuah angkutan umum yang tak begitu penuh. Ada seorang ibu bersama balitanya dan tiga anak sekolahan didalamnya. “Pulanglah dulu”, katanya sambil membukakan pintu angkutan umum itu dan membimbingku masuk. Aku tak mengerti mengapa waktu itu aku menuruti perintahnya dan tak berusaha bertanya mengapa Ia tak ikut pulang bersamaku. Aku bahkan tak menoleh lagi saat angkutan umum itu mulai melaju, dan pria itu pun mulai menjauh.

Agustus 25, 2014

A lady from Modern Times




Modern Times. Sebuah film layar lebar era 1930-an yang diperankan oleh aktor nyentrik, Charlie Chaplin. Ia dikenal lewat perannya sebagai Chaplin the tramp dalam setiap film bisunya. Film ini berkisah tentang kehidupan sosial warga Amerika Serikat di tengah hangat isu mengenai masalah pekerja dan sistem Kapitalisme yang berpengaruh pada nasib buruh disana kala itu. Nyaris 100 tahun kemudian seperti ingin menuangkan kerinduan, era modern times dibungkus penuh harmoni oleh ex Korea’s ‘nation little sister’, IU.

IU pada awal kemunculannya seperti membawa pendengar musiknya bermain dalam sebuah taman fantasi. Gaya nya yang cute dengan vokal 4 oktaf  yang luar biasa selalu membuat saya takjub setiap mendengar dia bernyanyi diiringi musik orkestra yang mewah; sebut saja dalam lagu last fantasy, you and I dan good day. Namun imej cute itu seolah gugur dalam album Modern Times. Lupakan music pop dance ala K-Pop, klasik dan iringan orkestra yang wah. Bersama musiknya, IU telah tumbuh menjadi wanita dewasa and become more classy dalam balutan musik Swing Jazz dan Bossa.

Musik jazz dengan irama vulgar dan bebasnya yang selalu lekat dengan sebutan musik kaum elite ini seperti pas untuk mewakili sosok wanita dewasa era modern times yang digambarkan sebagai wanita mapan yang mengerti fesyen, bergincu merah dan seksi. Dan ketika album modern times terdengar dengan suara IU yang nakal dan menggoda, seketika latar berubah menjadi hitam putih. Saya duduk sendiri dalam sebuah bar, berubah menjadi wanita dengan gincu merah diantara kerumunan pria bertuksedo dan wanita-wanita dengan dress dan gincu merah menyalanya. Mereka beradu tawa, mungkin juga sembari menikmati segelas chardonnay. Ditengah-tengah kami, IU menyanyikan between the lips dilanjutkan dengan Everybody has secrets dengan berani.

Tiba-tiba sosok Chaplin the tramp muncul dalam lagu modern times. Kali ini ia tak membawa tongkatnya. Hanya bertepuk tangan gembira. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling saya sukai. Dan hal yang saya tangkap dari lagu yang menyebut nama Mr. Chaplin pada bait liriknya ini adalah dalam suasana yang ceria sekalipun orang dapat merindu diam-diam.

Pria yang duduk di seberang yang sedari tadi melempar senyum tampak mendekat. Sebelum tiba-tiba berbelok dan menghilang. Ketika merenungi pria itu, the red shoes membawa saya ikut menghentak-hentakkan kaki. Lagu ini kemudian mengajak saya lari dari kesepian. Mungkin seperti berkaca atau sedang melihat pantulan diri sendiri. Saya wanita yang lebih berani untuk jatuh cinta. Bukankah ditempat seperti ini pria dan wanita boleh jatuh cinta dalam sekali pandang? Mungkin the red shoes akan membawa saya padanya. Hentakan spontan yang muncul dari saxophone terus membuat saya melangkah, semakin cepat. Mungkin jatuh cinta biasa se-spontan itu.

Pada lagu-lagu berikutnya, saya seperti berkomunikasi dengan piano, gitar, drum, saxophone, atau sekedar suara bisikan. Lagu lainnya membiarkan saya ikut larut dalam suasana  Amerika, perancis atau venice pada tahun 1930-an. Siapa yang tau ada rasa kehilangan di setiap petikan gitar Love of B. Seperti sebuah rasa yang aus karena basi – atau bisa jadi bosan.


IU seperti menyuguhkan sebuah drama berkelas dalam Modern Times. Mendengarkan keseluruhan lagunya seperti menyaksikan wanita dewasa merayakan patah hati dengan damai dan elegan. Seperti Obliviate yang serupa mantra untuk melupakan luka. Serangkaian lagunya terus berulang – Nakal dan spontan!

Agustus 19, 2014

Mungkin Saya yang Tak Sabar tanpa Kabar


Seharian ini lantunan musik Ebiet G. Ade terus berputar di music player laptop. Delapan lagu dari album best of the best diulang-ulang. Kasihan, suaranya sudah payah karena lelah. Kata orang lebaran merupakan momen tepat untuk kembali fitrah karena maaf sedang diobral besar-besaran. Ini tentu saja sudah lewat beberapa minggu dari lebaran dan tetiba kepikiran; mungkin saya perlu meminta maaf juga pada orang-orang tanpa kabar yang saya kenal. Seperti sahabat, orang-orang lain yang saya tahu dari sebuah nama, atau mungkin juga kamu.

Saya suka menjadi tak sabaran tanpa kabar. Saya tak tau ada berapa banyak orang diluar sana yang menjadi tak sabaran tanpa kabar seseorang. Saya berpikir, mungkin ada alasan-alasan kenapa manusia tak lagi bertukar kabar dengan manusia lain. Seperti sibuk yang selalu jadi alasan nomor wahid, atau mungkin kita tak lagi masuk dalam ingatan mereka untuk dikabari? Mungkin memang saya yang tak sabar tanpa kabar.

Agustus 12, 2014

LEPET dan LUPUT

Ramadhan sudah berlalu. Dan banyak hal yang saya rindukan dari bulan yang malam dan siangnya adalah ibadah itu.

Ada satu tradisi di kampung halaman saya, Kendal, yang mana setiap warganya akan mengantarkan lontong lengkap dengan lodehnya, jajanan, dan lepet kepada tetangga dan kerabat dekatnya.  Saya tidak tahu pasti disebut apa tradisi yang semacam hantaran ini kecuali pelaksanaannya disetiap minggu terakhir bulan Ramadhan. Mbah saya termasuk yang paling rajin dan rutin mengadakan tradisi ini. Dan saya akan kebagian tugas membantu membungkus dan mengantarkan ke kerabat jauh.

Waktu kecil, saya tidak ambil pusing dengan tradisi ini. Tapi semakin bertambah usia, saya bertanya-tanya apa tujuan tradisi ini? Kenapa repot-repot menyiapkan bungkusan, membuat lontong, membeli jajanan ini itu? Kenapa pula harus menyandingkannya bersama dengan ketan yang dicampur parutan kelapa, memasukkannya dalam lipatan janur kuning (yang kemudian disebut lepet ketan) dan mengantar-ngantarkannya ke semua tetangga dan kerabat yang bahkan tinggal di kampung sebelah?

Gambar Lepet Ketan oleh Aryo
Menurut cerita papa dan mbah, tradisi ini dianggap sebagai wujud permohonan maaf atas segala luput dan kesalahan si pemberi. Lepet yang mana rasanya gurih itu diumpamakan seperti ‘luput’ atau kesalahan. Jadi ketika ada hantaran berisi lepat diharapkan agar penerima memaafkan segala salah si pemberi.

Meski bukan kewajiban, tradisi ini masih cukup banyak dilakukan para warga. Tidak heran kalau musim hantaran di bulan ramadhan banyak lepet, lontong, dan aneka jajanan di dapur. Bagi saya sendiri, tradisi ini menjadi sebuah kesempatan bersilaturahmi dan berbagi rizeki. Alhamdulillah, buka puasa sudah ada banyak makanan dari tetangga dan kerabat J

Agustus 01, 2014

Bicara Tentang Runtutan Garis Keluarga


It's been long time since my last post yaaa, dan sudah lewat dari ramadhan dan idul fitri. Eniwei, minal 'aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. I hope all of you have a joyfull time with your family. Aamiin.

Bicara lebaran, ini kali ketiga saya tidak merayakan lebaran di Batam dan menghabiskan hampir dua minggu liburan di tempat mbah which mean there's nothing to do in here exactly. Kecuali, berkunjung dan menghabiskan waktu sharing dan bercerita ngalur ngidul bersama Meyta (teman masa kecil sekaligus keluarga saya) yang kalau secara garis keluarga adalah tante saya. Makanya saya memanggilnya Lek Meyta. Padahal kita seumuran. Malah saya lebih tua sebulan dari dia :D

Tradisi keluarga saya untuk urusan garis keturunan dan tata krama penyebutan sangat kental. Jika meruntut pada garis keluarga Ibu, saya tergolong urutan muda. Tak jarang anak-anak kecil dari keluarga ibu yang baru berusia 5 tahun akan memanggil saya dek. Bahkan Om dan Tante saya adalah anak-anak seusia 10-17 tahun. Di momen kumpul keluarga seperti lebaran begini, hal tersulit bagi saya adalah menghafal siapa saja daftar keluarga saya. Saya yang cuek dengan runtutan garis keluarga ditambah lebih banyak mengasingkan diri di Batam, sering keblinger bagaimana memberikan embel-embel sebutan di depan nama mereka sebagai bentuk tata krama. Ada yang perlu saya sebut mbah, yai, nyai, lek, pakde, bude, bla bla bla. Jangankan sebutan, tahu semua nama-nama mereka saja saya ragu. Hehe

Coba bayangkan. Ibu saya punya ibu yang saya sebut mbah. Mbah saya memiliki tiga saudara yang sudah menikah dan tentu saja ketiganya harus saya panggil mbah. Saya mendapat mbah lain dari suami dan istri saudara mbah saya. Jadi ada sekian mbah yang saya punya jika meruntut pada garis keluarga  Mereka punya anak kira-kira 3 sampai 5 yang menjadi tante, om, pak de dan bu de saya. Dan begitulah terus menerus bercabang sampai kemana-mana yang pada akhirnya semua adalah keluarga. Pusing? Jelas. Lalu bagaimana dengan kalian?