Pages

January 07, 2016

Geng Plosokuning



'Jadi, geng Plosokuning fix bubar?' tanyaku seketika melihat kamar mas Adi yang sudah kosong tinggal pretelan kertas bekas ujian yang nilainya sudah dirobek, dan beberapa tempelan dinding yang sepertinya sengaja ditinggal karena males nyopotin satu-satu.

Oppa yang di kamar sebelah cuma senyam-senyum. Lagi ada pacarnya, dan tumben mereka akur.

'Sedih nih. Bakal kehilangan markas. Banyak kenangan. Kita makin jauh.'

'Kan ntar bisa main-main.'

'Iya. Tapi musti melewati macet dulu. Trus mas Adi sama Jalul ntah diujung belahan mana.'


Ya. Ada perasaan sedih malam ini datang ke markas geng plosokuning. Geng ini awalnya terbentuk karena gojekan. Ketika beberapa anak kelas yang cowok memutuskan untuk tinggal satu rumah di daerah bernama Plosokuning, jadilah mereka kami sebut geng Plosokuning (Awalnya saya salah sebut jadi geng Pelosok kuning. #Zonk).

Karena modelnya rumah, kita anak kelas sering ngumpul disitu. Ibaratnya nih, rumah mereka sudah jadi markas. Kalau ada acara kelas, meeting point nya ya di Plosokuning. BBQ-an, nonton bola, nyanyi-nyanyi, ngerjain tugas. Kalau abis nonton bioskop midnight rame-rame dan males pulang, stay aja disitu. Bosen di kosan, main ke Plosokuning. Lumayan bisa nonton TV kabel gratisan. Sampai kemarin sakit juga stay sama geng Plosokuning. Asli, rasanya lebih nyaman dan aman.

Gosip kalau geng ini bakal bubar sebenarnya sudah tercium dari akhir semester genap lalu. Mereka udah mulai hunting kos-kosan. Tanya soal kontrakan baru. Mereka jarang di rumah. Rumah mulai berantakan nggak keurus. Galon udah bergerak-gerak karena nggak keisi. Puncaknya, satu-satu mulai keluar. Pindah. Mas Ridho yang tiba-tiba pergi karena dinas di rumah sakit luar Jogja, Jalul yang udah boyongan ke daerah deket sama tempat usahanya, dan mas Adi pindah ke rumah yang ngasih penawaran gratis masa uji coba tinggal selama empat bulan.

Time flies. 

'Heh, ngelamun. Jadi pergi ke bawah nggak?' Uncle udah rapi berdiri depan pintu sambil nenteng helm.

'Iya iya jadi. Ayok!'





-eL
Jogja atas, sebelum ke cafe.





January 05, 2016

Anak teknik dan non-teknik



Di ask.fm, seorang anonymous bertanya: 'Lebih suka anak teknik atau non-teknik kak?'

Pertanyaan yang sebenarnya lawas itu saya yakin ditanyakan oleh lebih dari sekedar anonim, setidaknya si anonim itu mengenal saya dan sebaliknya. 

Dalam keseharian dimana jauh sebelum memutuskan menjadi kaum yang membahasakan bahasa (mungkin hingga sekarang), saya dekat dengan dunia teknik. Trek rekor saya tidak jauh-jauh dari teknik.  Dari teman-teman  dan sahabat saya; yang kebanyakan cowok, anak teknik, mainannya robot, ngutak-ngatik komputer, bikin desain atau animasi, colok kabel sana-sini; keseharian yang menerapkan prinsip anak teknik - segala masalah ada solusinya; saya yang jauh lebih mengerti dunia komputer dibanding dengan anak-anak di jurusan saya padahal aslinya cupu soal beginian, dan segelintir gebetan anak teknik sebagai bonusnya :D

Semua itu bukan berarti saya akan langsung memutuskan lebih suka anak teknik. Apesnya aja saya lebih sering gaul dengan anak teknik dibanding jurusan non-teknik. Nah, pertanyaan yang diajukan si anonim itu juga nggak spesifik. Suka dalam hal apa? 

Di bangku kuliah, saya diberi kesempatan untuk bisa lebih jelas melihat gaya anak teknik dan non-teknik. Jika di fakultas sendiri yang saya lihat kebanyakan gadis-gadis modis dan segelintir cowok menye-menye, maka ketika masuk di gedung fakultas teknik yang letaknya di ujung kampus yang saya lihat adalah sebaliknya. Gerombolan cowok dimana-mana. Atau ketika mahasiswa teknik arsitektur sedang berjejer menggambar salah satu bangunan kampus dengan serius, bahkan cewek-cewek yang selo membawa tentengan tas besar plus tabung arsitek.

Selain itu, lewat program kuliah kerja nyata juga ada kesempatan untuk tinggal satu atap dengan dua kubu ini - anak teknik dan non teknik. Disini kerasa banget perbedaan keduanya. Seperti saat mengambil keputusan, melaksanakan program kerja, menyelesaikan masalah, gaya hidup, cara bergaul, kerja kelompoknya, hampir terlihat jelas perbedaannya. Anak teknik jauh lebih sederhana dalam beberapa hal, jauh lebih solid dan memikirkan tim, menyelesaikan masalah dengan prinsip efektif dan efisien, gesit, dan yang paling saya garis bawahi; rata-rata anak teknik itu b-a-i-k.

Dari semua itu, bukan berarti anak teknik selalu keren abis dan anak non-teknik buruk. Hanya sedikit anak teknik yang saya tau. Dan dari yang sedikit itu, banyak pula yang sebenarnya payah. Malah ada yang brengsek. Segala hal selalu ada dua sisi. Yang baik dan buruk. Selalu seperti itu, seimbang.

Jadi, lebih suka anak teknik atau non-teknik?
:)


- el

December 27, 2015

Goes to 2016



2015, terimakasih untuk tahun yang luar biasa. Terimakasih untuk pelajaran yang berarti. Di luar sana, di dunia yang jauh lebih luas tanpa dibatasi tembok kelas. Mengunjungi tempat baru, mencicipi makanan baru, bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan budaya lain, berinteraksi dengan berbagai karakter, bernegosiasi dengan masalah-masalah yang rupanya jauh lebih rumit dibanding mendiskusikan solusi untuk studi kasus dari buku kuliah. Semua jauh lebih nyata, semua harapan, menunggu kepastian, berlelah-lelahan, kekeluargaan, tawa dan haru. Maka nikmat Allah mana lagi yang aku dustakan?


Yogyakarta, 27 Desember 2015
Dalam pelukan kasih sayang Tuhan

October 07, 2015

Selamat Tidur, Dilan. Aku Rindu, Tanpa Dimulai Temu.


Dilan. Dilan.
Aku cuma tau nama. Aku suka nama kamu.
Aku cuma tau cerita kamu.
Caramu memperlakukan Milea.
Aku suka.

Dilan. Dilan.
Dimana kamu?
Aku ingin mendengar suaramu

Dilan. Dilan. Dilan yang dirindukan.
Selamat Tidur, Dilan.
Aku rindu. Kami semua rindu,
Tanpa dimulai temu.




Untuk Dilan 1990-1991
Jogja Atas, Oktober 2015.
Bersama tiga lagu dari ayah Pidi 'Voor Dilan'.

September 27, 2015

Untuk Kalian Berlima


Kalian tahu, momen perayaan ulang tahun di rumah kita adalah sesuatu yang menyenangkan juga sesuatu yang selalu kusukai. Karena itulah saat kita bersyukur telah dipertemukan, juga tanda bahwa sudah satu tahun (lainnya) lagi  kita menghabiskan hari-hari bersama. Dan saat tak ada seorangpun yang peduli hari ulangtahunku, diam-diam kalian menyiapkan kejutan sederhana yang keburu kuketahui. Tak pernah ada kue tart. Hadiah yang kalian berikan juga bukan sesuatu yang mahal. Tapi selalu ada ketulusan di niat kalian. 

Belakangan rumah sepi. Kita sudah disibukkan dengan urusan masa depan. Sudah jarang ngobrol bareng lagi karena keburu capek pulang kerja ataupun kuliah. Bagaimanapun, terimakasih sudah ada selama ini disaat banyak mereka tak sungguh-sungguh peduli. Terimakasih untuk kalian yang selalu bisa diandalkan. 



xoxo, el.