Februari 01, 2015

Symphony in February



Februari.
Tanda musim hujan segera berakhir, dan tibalah musim liburan semester ganjil

Drama Cantabile Tomorrow baru saja saya tamatkan kemarin. Lucu sih, drama ini pada akhirnya tidak terlalu diminati karena diluar ekspektasi dan berakhir dengan begitu saja di episode 16. Padahal ‘this is my style’! Classical, walau yah acting si Ne Il memang lebay. Banyak yang bilang efek klasik dan orkestra dalam drama hasil remake serial Jepang ini kurang digarap serius. Kalau yang versi Korea saja sudah enak dinikmati, nggak tahu deh gimana yang versi Jepang. Mungkin benar-benar membuat saya harus segera menonton pertunjukan London Symphony langsung di Royal Albert Hall.

Dalam lantunan musik Beethoven yang belakangan kembali saya dengarkan (mungkin karena efek nonton drama Cantabile Tomorrow), teringat teman-teman baik saya dulu. Yasin. Entah apa kabarnya sekarang. Kalau beruntung, mungkin dia masih menyempatkan diri berkunjung ke blog ini, dan membaca tulisan ini. Terakhir dia mengabarkan perihal saudara perempuannya yang akan lulus dan meminta pendapat soal jurusan dan kampus yang baiknya dimasuki oleh anak perempuan. Sebelum akhirnya Ia memutuskan berhenti kuliah, padahal sudah bagus terdaftar sebagai mahasiswa salah satu kampus teknik paling ngetop di Surabaya. Sebulan kemudian, kabar bahwa dia memutuskan kembali ke Batam dibenarkan oleh Ulek, yang tak sengaja melihatnya di Pom Bensin. Sempat tak mengerti jalan pikirannya, saya hanya bisa mengingat tahun-tahun yang menyenangkan bersama dia. Salah satu teman terbaik dan terhebat. Dua tahun berlalu semenjak telepon terakhirnya yang seperti ingin bercerita banyak hal, mengingatkan bahwa sekalipun kamu pernah dekat dengan seseorang, sekalipun banyak cerita yang dia bagi, yakinlah masih banyak rahasia yang tak Ia sampaikan. Ia hilang bersama rahasia-rahasia dan keputusannya yang tak sampai di pikiran saya, entah dimana.

Silvi, salah satu teman baik di sekolah menengah secara tiba-tiba mengirimi pesan singkat beberapa minggu lalu. Ini cerita lain. Ia mengabarkan tentang Okta, satu diantara kami bertiga yang kabarnya sudah tak pernah terdengar. Diantara yang lain, Silvi termasuk yang paling sering mengirim pesan. Apalagi menjelang Imlek. Dia keturunan Tionghoa dan beragama Budha. Setiap Imlek, dia selalu mengundang saya dan Okta untuk main ke rumahnya. Bahkan undangan itu masih berlaku hingga saya kuliah di Jogja. Okta, kata Silvi tak pernah lagi diketahui rimbanya. ‘Pergi dibawa cinta sampai ke kota kembang’ katanya. Orang tuanya tak tahu, teman-teman kerjanya, guru sekolahnya juga tak tahu. Okta anak baik, Begitukah cinta, membutakan? Tanya saya selesai mendengar Silvi bercerita setelah kemarin sorenya bertemu mama Okta. Sisanya, saya hanya mendengarkan nasihat Silvi dan harapannya jika saya bertemu Okta. Mungkin dia kira akan lebih mudah bertemu dengan orang jika orang itu sepulau dengan kita? Tak tahu dia seberapa luas pulau ini, bahkan untuk bertemu dengan teman yang juga tinggal di Jogja pun tak mudah? Saya tak sungguh-sungguh berjanji, tapi mengusahakan.

Ah, saya merindukan kalian. Sungguh. 

Januari 12, 2015

Look Who's Getting Older

New year!

By Dyocari
Hal yang akhirnya saya sadari adalah total sudah 4 tahun saya ngeblog, dan bisa dilihat bahwa blog ini seakan ikut tumbuh bersama saya. Boleh kalian cek tulisan saya yang masih emosional dan sentimental (kalau kata seseorang) diawal-awal, sampai sudah mulai mencoba menulis sesuatu yang lebih berbobot. Setidaknya dengan memakai bahasa yang normal. In fact, it's silly to reread my own posts. Setiap kali saya baca ulang tulisan lama di blog ini, spontan saya cengar-cengir dan mikir 'Gosh! Is it a real me? or someone tried to hack my blog?'. Itulah kenapa saya selalu kaget kalau ada orang yang tiba-tiba ngomong: 'Heh! aku baca blog kamu, lho. Sampai tulisan yang jaman Key-pop'. Plis...

0112. hari ini ada sekian ribu orang di dunia yang bertambah usia walau hakekatnya usia seseorang selalu berkurang setiap hari. Kita selalu suka mengucapkan harapan dan doa yang baik-baik kepada orang dihari lahirnya atau di hari ulang tahun kita sendiri. Tak ada yang melarang doa yang baik. Doa baik seperti: semoga bertambah hal-hal baik dari dirinya, dilancarkan rezekinya, diberi kesehatan lahir batin, dan dimudahkan urusan dunia dan akhiratnya. Tentu semua doa harus dibarengi usaha. Saya kemudian ingat seorang teman pernah berkata: 'Doa tanpa usaha itu kosong, dan usaha tanpa doa itu sombong. Kita doakan yang baik-baik, Ia barengi dengan usahanya. 

Bertambah usia semestinya bertambah baik dan semakin dewasa. Sahabat baik saya besok berulang tahun. Ia anak yang baik, dan selalu baik kepada saya. Saya mengenalnya sedari duduk di bangku sekolah, dan sudah puluhan kali bercerita banyak hal padanya sebab akunya dia pendengar yang baik, tetapi tak pernah bercerita banyak tentangnya kalau tidak saya paksa-paksa. Ia anak laki-laki yang tidak aneh-aneh. Hanya anak teknik informatika yang dapat IPK jauh lebih tinggi dibanding anak teknik lainnya, serta aktif ikut ngurus acara kampus. Tentu saja, menemukan teman karib seperti dia adalah salah satu hal yang saya syukuri. 


Hari ini, selamat ulang tahun untuk kamu yang ke 22 tahun. Kamu selalu berdoa agar semua orang sehat dan bahagia. Maka, doa itu semoga kembali kepada kamu. xoxo

Untuk esok, Barakallah fi umrik - happy milad sahabat yang baik, Jefri. Doanya yang baik dan tetap jadi anak baik. Semoga dilancarkan Tugas Akhirnya :)


Januari 09, 2015

Menulis dan Femininity



Seseorang berpendapat menulis identik dengan femininity. Saya tak yakin betul apakah menulis dapat dan selalu diidentikkan dengan femininity atau yang umum disebut dengan sesuatu yang terlihat ‘cewek banget’. Bagi saya agak rancu menentukan manakah hal-hal yang terkesan masculine? Atau mana yang feminine?

Seperti ketika harus menentukan advising, ordering, dan protesting masuk kategori feminine atau masculine, nyaris seluruh mahasiswa di kelas mata kuliah intercultural communication memasukkan ketiganya ke kategori Feminine. Salah? Yah kalau dipikir-pikir sih tidak juga. Kalaupun salah, saya belum sempat baca teori yang menyatakan ketiganya sesuatu yang pasti masculine. Hal semacam itu biasanya efek stereotype. Ada dari masing-masing kita yang sudah keburu berpikir ‘yang senang memberi saran itu cewek’, karena cewek suka curhat dan biasanya pemberi saran terbaik adalah cewek. Jadi yaa kalau ada argument advising itu cewek banget, mungkin aja bener. Cewek suka memerintah? Cewek suka protes? Well, mungkin efek keseringan nonton FTV yang rata-rata ada pemeran ceweknya suka teriak-teriak sama pacarnya, nyuruh ini itu, marah nggak jelas, makanya memasukkan ordering sama protesting ke kategori feminine. Mungkin.

Lalu mengenai apakah menulis identik dengan femininity, pendapat saya adalah tidak juga. Menulis itu bukan sesuatu yang ‘cewek banget’. Kalau kita perhatikan, banyak penulis buku best seller dan terkenal adalah pria. Sebut saja J.R.R Tolkien, Shakespeare, Dan Brown, Paulo Coelho, Jeff Kinney, atau yang dari Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer, Tere Liye, Aan Mansyur, sampai penulis blog terkenal Raditya Dika, Bena Kribo dan Dara Prayoga. Mereka adalah pria yang selalu dipenuhi kata-kata dan menuangkannya dengan indah dalam sebuah tulisan. Masih berpikir menulis itu identik dengan femininity? 

Dulu, di UK sana, Joanne Kathleen Rowling harus memutar otak agar tulisannya bisa di terima di pasaran yang mana saat itu pasar sastra dipenuhi penulis-penulis pria dan khawatir jika target pembaca tidak mau menerima buku yang ditulis oleh seorang wanita. Sampai akhirnya ia menyingkat namanya menjadi J.K Rowling agar terlihat lebih maskulin. Beberapa tahun kemudian, ia menyamarkan dirinya menjadi Robert Galbraith melalui karya best seller, The Cuckoo’s Calling. Pertanyaannya, kenapa dia memilih nama pria?

Penulis-penulis blog yang tulisannya seputar curhatan harian, galau-galau, putus cinta, dan kebanyakan ngelucunya juga ditulis oleh pria. Malah blogger seperti Raditya dika dan Bena Kribo yang ngaku absurd bisa menginspirasi pria-pria lain untuk nulis!. Ada pula teman saya, Ia pria yang suka menulis dan tulisannya bisa membuat saya meleleh kalau membaca bagian embun dan fiksi atau tersindir lewat tulisannya yang penuh kritik. Dia – Aziz namanya.


Hal itu membuat saya berpendapat kalau menulis bukan sesuatu yang cewek banget kok. Menulis itu untuk sharing dan sebagai pengembangan pikiran. Saya menikmati proses menulis seperti ini, dan saya pun menikmati setiap tulisan para pria.