Februari 20, 2015

Review Drama Healer


Jika disuruh memberikan rating, saya akan menyodorkan 4.7 bintang untuk drama Healer yang baru kemarin berakhir dengan apik di episode 20. Diluar dari tema dan beberapa adegan yang tampak familiar, drama ini mampu mencuri perhatian saya dari episode pertama dan terus berkembang disetiap episodenya. Maklumlah drama biasanya menyuguhkan adegan dan cerita yang intinya sama cuma beda pemain.

Bermula dari kasus transaksi yang memakan korban, kasus kekerasan wanita yang dilakukan oleh pejabat tinggi, sampai misi untuk menemukan seorang gadis yang hilang menjadi awal mula terbukanya kasus masa lalu yang tersimpan selama 20 tahun. Healer, secara tidak sadar telah masuk kedalam masa lalunya sendiri ketika mencoba menyelesaikan kasus-kasus yang ditanganinya.

Healer sekilas mirip dengan konsep City Hunter dan Bloody Monday-nya Haruma. Juga spiderman kalau setuju. Ji Chang Wook yang kebagian peran jadi Healer juga punya ekspresi dan penampilan mirip lee min ho di city hunter. Pas pula lawan mainnya Park Min Young yang berperan jadi Kim Nana di city hunter.


Ada beberapa poin yang saya amati dari drama ini.

Konsep Healer dan City Hunter yang Mirip

Sama-sama menyuguhkan kecanggihan teknologi, kemampuan pemeran utamanya dalam hal bela diri, bersembunyi dan memata-matai, keduanya ditemani pemeran perempuan yang sama, menutupi identitas mereka, sama-sama ingin membersihkan nama ayah mereka.

Peran Ganda

Ji chang wook berperan sangat baik di drama ini dengan menjadi tiga tokoh sekaligus. Sosok Healer yang jago bela diri, lincah, misterius, cool, otomatis ganteng banget. Park Bong Soo yang menye-menye, penakut, agak idiot, kekanak-kanakkan sometimes. Seo Jung Hoo yang diawal-awal muncul sebagai anak underground, slengekan, style remaja banget. He should be become an actor of the year! Peran ganda alias samar-menyamar juga dilakukan sangat baik oleh si Ahjumma sang Hacker.

Kasus yang runtut, dan pemecahannya yang berproses

Kasus yang disuguhkan Healer walaupun di setiap episodenya berkembang dan bervariasi tetapi sebenarnya memiliki titik pusat yang sama, saling berkaitan satu sama lain. Pemecahan kasus pun berproses sehingga setiap kali nonton di tiap episode akan dikejutkan dengan banyak hal dan menduga-duga kelanjutannya. Banyak masalah yang dibuka tutup di drama ini sehingga endingnya tidak mudah ditebak.

Soundtrack

Jangan lupakan back sound lagu di drama. Soundtrack yang bagus akan membuat penonton teringat-ingat adegan dan otomatis menjadi ciri khas drama tersebut. Healer mengejutkan saya dengan memakai soundtrack yang salah satunya dinyanyikan oleh musisi ngetop Michael Learn to Rock dengan judul Eternal Love yang secara khusus di tulis oleh orang Korea dan direkam untuk drama ini. Musik di lagu ini sangat cocok dengan nuansa drama Healer

Permainan Flashback

Banyak drama yang menyuguhkan adegan flashback, dan yang terbaik menurut saya salah satunya di Healer. Flashback dalam drama ini lebih menekankan pada kisah lima sekawan yang menyebabkan munculnya kasus-kasus. Menonton drama ini seperti disuguhkan dua cerita yang berbeda. Juga flashback beberapa pemain lainnya.

Hacker

Segala sesuatunya jadi mungkin karena ada hacker di drama ini. Si Ahjumma, yang mana mantan seorang detektif amat sangat membantu kinerja Healer. Seperti nonton bloody Monday, aktivitas hacking begini bikin deg-deg an. Apalagi kalau udah mencoba meretas dan mendownload data dari komputer sasaran dan memanipulasi cctv. Hacking juga bikin cerita di drama ini jadi lebih seru dan nggak monoton. Kayak tiba-tiba si Ahjumma muncul di layar TV si Healer, mendeteksi wajah-wajah, memanipulasi data, dll. Meski agak nggak masuk akal, kemampuan si Ahjumma boleh tahan lah.

Technology

Teknologi yang canggih jadi penentu suksesnya drama beginian. Karena ada adegan hacking, teknologi yang dimunculkan otomatis kece badai. Dari komputer Ahjumma yang jumlahnya banyak dengan berbagai system didalamnya, Kacamata healer yang multifungsi, earphone yang mampu mendeteksi system tubuh healer, Cincin healer yang digunakan untuk mengoperasikan komputernya, Jam tangan healer yang bisa jadi web cam, Koneksi internet yang otomatis super kenceng, rumah si Healer yang demi apa safety banget dengan bantuan kode-kode rumit untuk masuk padahal rumahnya Cuma sebatas gedung tak terpakai.

Romantis dan Komedi

Adegan Healer sama Ji Han/Chae Young Shin bikin ngiri. Saya suka adegan dimana Ji Han tanya ke healer, mau barat atau timur. Healer jawab Barat. “Oke, berarti kita hanya saling berdiri selama satu menit” kata Ji Han. “Kalau aku pilih timur bagaimana?” “Maka kita berpelukan selama 10 detik” “Aku ganti berpelukan saja kalau gitu” Si Healer langsung menye-menye mau meluk Ji Han.

Nilai Persahabatan, kekeluargaan, Cinta, Wanita, dan Harta

Banyak nilai dari drama ini. Persahabatan lima sekawan yang terkhianati hanya karena cinta, wanita, dan harta, kekeluargaan yang sangat erat, dan banyak lainnya.


Healer menurut saya menjadi salah satu diantara banyak drama yang berkualitas baik. Tidak terlalu digembar-gemborkan diawal lalu kualitasnya menurun seiring berjalannya episode, tetapi keseruannya terus berkembang. Hanya saja ada beberapa hal yang penuntasannya digantungkan, dan tidak ada pengembangan tokoh yang punya andil besar diawal-awal. Overall, excellent. 

Februari 18, 2015

Sebab Melalui Tulisan, Aku Jatuh Cinta



Saya mengagumi mereka yang berpengetahuan luas, dan saya suka pria yang gemar menulis. Entah menulis yang kritis maupun kata-kata romantis. Membaca tulisan-tulisannya seperti membaca pikirannya. Sudut pandangnya luas, seluas cakrawala pengetahuannya.

Pria yang gemar menulis, tentu gemar membaca. Pengetahuannya luas karena membaca macam-macam buku politik, sastra, novel atau berita dalam koran. Mereka juga membaca alam lalu membahasakannya kedalam tulisan.

Jika disuruh menyebutkan pria yang gemar menulis, maka ada satu nama yang saya kenal. Namanya Aziz, mahasiwa jurusan sebelah yang sekilas tak terlihat mampu berkata-kata melalui tulisan sebab jika sudah berkesempatan ngobrol dengannya, dia seperti sosok nyeleneh. Cara pandangnya miring. Otaknya pun miring. Dia menjuluki dirinya sendiri Aziz miring. Tapi saya tahu Ia sangat kritis dalam menilai suatu hal. Dan melalui tulisan, Ia merefleksikan pandangannya yang ‘miring’ pada segala sesuatu yang tak orang lain pikirkan.

Tulisan pertamanya yang mampu membuat saya jatuh cinta adalah ketika Ia mendefinisikan kalangan akademisi fakultas yang ‘buta huruf’. Ia mengkritisi bagaimana sebenarnya banyak akademisi yang tak mampu membaca seolah mereka tak hanya buta huruf, tapi juga buta moral.

Saya bisa membaca tulisannya hampir di setiap edisi majalah fakultas maupun jurusannya. Banyak tulisannya yang membuat emosi saya meletup-letup dan berdecak kagum. Saya pikir dia tergila-gila pada menulis sebab menulis baginya adalah bernafas. Tulisannya ringan tapi tentu sarat pelajaran. Tulisan-tulisannya juga kadang konyol ketika bercerita tentang bagaimana dia melalui hari-harinya atau bagaimana dia melihat sebuah hal yang orang lainpun tak sempat pikirkan.


Menurut saya tulisan-tulisannya mampu menginspirasi. Jadi jika ingin membaca tulisannya, sempatkanlah berkunjung ke gubuknya di http://gubukaziz.blogspot.com

P.S: Kalau kalian ingin tahu, saya paling suka bagian embun dan fiksi

Februari 10, 2015

BIPA Project #1

Cre: Mukhlas' Documentation
Belakangan baru sadar, banyak orang Asing yang mulai belajar Bahasa Indonesia. Tujuannya macam-macam, mulai dari sekedar untuk memudahkan komunikasi saat berwisata, studi, ataupun bekerja di Indonesia. Liburan kali ini, saya berkesempatan ikut ambil bagian di BIPA project. Such a wonderful opportunity!

BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing dirancang untuk memenuhi kebutuhan warga Asing yang ingin menguasai Bahasa Indonesia. Kampus saya kebagian ikut menerima beberapa mahasiswa dari Australia. Dan kemarin adalah kesempatan bagi para mahasiswa tersebut untuk berkunjung dan berkeliling kampus saya. Saya yakin mereka sudah banyak tau tentang kultur dan beberapa hal soal Indonesia. Lebih dari itu, orientasi BIPA kali ini lebih mengenalkan nilai Islam dan sejarah kampus saya :D

Ada Oliver, yang interest banget dengan Islam terbukti waktu kita ajak dia mengunjungi masjid kampus dia bilang kalau itu adalah salah satu masjid terbesar yang dia kunjungi dan kemudian dia banyak tanya. Mengingatkan saya dengan topik orientalisme yang saya presentasikan di kelas Islamic thought and civilization. How the westerner try to learn anything that related to the eastern, including about religion. Lucunya si Oliver ini setiap kali lihat kaligrafi saya disuruh bacain plus diartikan ke Bahasa Inggris. Salah satunya kaligrafi tentang kewajiban menuntut ilmu bagi seorang muslim yang ditempel di perpustakaan.

Diantara yang lain, Oliver termasuk yang punya kemampuan bahasa Indonesia paling baik. Dia sudah bisa melafalkan beberapa kata dengan jelas dan memahami bacaan tulisan. Seperti ingin menunjukkan kemampuannya, Oliver mencoba menyanyikan lagu Iwan Fals (yang entah judulnya apa). “satu jam terlambat. Lewati … ehmm traffic Jam, oh, lewati lampu merah… na na na” dia bersenandung sambil mengingat-ingat liriknya yang ternyata dia artikan dulu ke bahasa Inggris. Makanya kenapa tiba-tiba dia nyebut traffic jam buat bilang lampu merah. Grammar translation! Kekeke. Karena kemampuannya itu juga, dia semangat banget waktu saya suruh baca setiap caption yang ada di museum kampus lalu dia artikan ke bahasa inggris depends on the word that appeared. Serasa ingin dia baca semua dan kemudian bilang “What do you think about my Bahasa?” “Oh! excellent, Oliver. You did it well!”

Berbeda dengan Tania, yang katanya sih sudah pernah ke Indonesia dua puluh tahun lalu yang lebih interest sama candi yang ada di perpustakaan. Jadi kampus saya punya candi, gais. Tania hampir lompat-lompat waktu kita bilang akan mengunjungi temple. Tapi dia sama sekali nggak ngerti bahasa Indonesia. Senengnya ngobrol sama Tania ini, dia orangnya very chatty. Walau hampir-hampir nggak ngerti kalau dia ngomong.

Senang sih beberapa jam jadi tour guide mereka. Kesempatan buat chit-chat, mengenalkan budaya Indonesia dan indahnya islam dari perspektif kita langsung. Jadi mikir, mereka aja semangat mempelajari milik kita tapi kadang kita sendiri acuh tak acuh dengan milik sendiri.