Juni 12, 2014

Muara Yang Dituju

Pada sungai, kamu akan menemukan jeram dan arus diam. Arus diam membiarkanmu bersantai, sedang kamu perlu kekuatan ekstra untuk mengarungi jeram-jeram. Berani jatuh, berani basah, and dare to take a risk. Begitupun dalam hidup. Sometimes, you feel at ease in your comfort zone. Sometimes, you need more struggling to survive. Tak ada istilah just let it flow. Tak ada istilah ikuti arus bermuara. Kamu tak perlu mengikuti arus jika tak tau kemana muaranya, seperti kamu tak bisa mengikuti langkah orang lain yang kamu sendiri tak tau kemana tujuan hidupnya.
(Oleh-oleh dari diklat Marcomm - dan kisah diatas boat with Firna, Kano, Desy, Rifky)

April 27, 2014

Macam Tak Pernah Kenal

Lucu jika melihat apa yang 'sebuah waktu' bisa lakukan pada kita - manusia.

Dia mempertemukan kita dengan orang-orang yang bahkan di detik sebelumnya tak pernah kita duga akan bertemu dengan mereka.

Di suatu detik lain, dia mengasingkan apa yang sudah menjadi kebiasaan. Menjauhkan sepasang teman dekat. Membuat keduanya hampir seperti tak pernah saling mengenal.

Lalu, kita akan menjadi penantang. Kita masih akan terus tertawa kala waktu lebih sering menertawakan hidup kita. Mungkin sampai ia tak punya kuasa mengadili waktu kita lagi.

April 25, 2014

Menyendiri Semalam

Diantara banyak hal, menyendiri jadi kebiasaan yang mengasyikkan akhir-akhir ini. Terutama ketika pikiran kosong sekalipun sekitarmu dipenuhi suara.
Seperti malam ini, saya memilih berseorang diri mengendarai sepeda motor tanpa tahu hendak kemana. Dalam perjalanan, saya merenung pada hal-hal yang saya lihat. Jalan kaliurang yang macet, klakson kendaraan bersahutan dijalan, pengamen yang beraksi di lesehan pinggir jalan, dan para pengayuh sepeda yang beradu kencang dengan kendaraan bermesin. Dan akhirnya, renungan jatuh pada betapa sibuknya kota ini.
Lucunya, pikiran saya tak mau lepas kontrol. Ia tahu kemana kendaraan saya diarahkan. Ya, pada satu-satunya tempat yang selalu jadi persinggahan menyepi. --Toko Buku. Kalau kalian ingin tahu, belakangan saya sedang rajin ke toko buku.
Toko buku di daerah Gejayan itu selalu ramai. Cuma mereka tak bersuara. Hal mengapa saya senang berlama-lama disana. Selain menikmati aroma tumpukan buku, saya juga pengen nongkrong di kafe lantai dua toko buku itu. Sayang, pas saya sendirian duduk di salah satu kursinya, mas-mas pelayan kafe itu tak bisa berhenti melirik kearah saya. Mungkin dia tak pernah dapat kunjungan pelanggan yang datang seorang diri. Hugh!

April 21, 2014

Being Twenty

Bulan April kembali membawa cerita tentang anak perempuan yang bertambah usia. Anak perempuan papa yang sudah tidak doyan lagi menangis karena berebut mainan dengan Sobah, tapi masih suka ngambek kalau dicuekin. Anak perempuan papa yang sudah diributkan dengan urusan perasaan macam cinta. Anak perempuan papa, yang jadi suka menangis karenanya.

Menjadi dua puluh adalah suatu hal yang saya tunggu dari usia 6 tahun. Kamu bisa melakukan banyak hal. Pilihan yang kamu ambil dianggap benar. Kamu sudah punya hak menentukan akan seperti apa kamu. Dan kamu bisa jatuh cinta pada siapapun. Begitu pikir saya. Nyatanya usia dua puluh jauh lebih liar. Dia menguji dengan kehilangan. Saya dituntut belajar mengikhlaskan. Saya akrab dengan pengabaian. Saya belajar untuk mencintai apa yang tidak saya cintai, dan belajar untuk menjadi lucu kalau kalian ingin tahu. Bagian yang menyebalkan! Sungguh. Lucu 'kan tidak bisa dibuat-buat. 

Usia dua puluh di mata saya dipenuhi dengan orang-orang serius. Mereka yang ambisius dan menatap ke depan. Mereka yang melakukan banyak hal hebat dengan tergesa-gesa, atau sebagian memilih bergerilya. Nyaris membuat saya ngeri karena takut ketinggalan.

 Tapi di usia dua puluh saya juga dikelilingi mereka yang menikmati proses hidup dengan lebih santai, tidak terburu-buru. Yang masih bisa tertawa lepas dan nggak saklek dengan aturan semua harus diseriusin. Bersama mereka, saya menikmati proses bertambah usia ini. Merayakan diri yang menjadi tua. "Teman-teman, mari berbahagia dan merayakan hidup ini dengan tertawa." Doa saya dalam bisikan yang selembut leleh lilin.

Maret 31, 2014

KELANGAN: Ketika Mati-matian Menjaga Sebuah Titipan

Pernahkah kalian merasakan perut kalian seperti dihantam sebuah godam?

Pukulan terbesar itu datang diawal semester empat ini.  Kira-kira seminggu yang lalu, kejadian tidak mengenakkan itu terjadi. Setelah menghadiri kelas matakuliah matdev yang  harusnya hari itu libur, mendadak saya ingin pingsan menerima berita laptop saya hilang. Iya. H I L A N G dimaling orang!!!

Awalnya saya mau ngekek. Aah, nggak mungkin. Paling anak-anak ngerjain gueh!! Tapi diingat-ingat lagi, hari ulang tahun saya masih lama beh! Apalagi setelah tahu laptop yang hilang tidak hanya punya saya, tapi laptop Ane dan tablet Abdi juga, Gueh makin ngekek.

Jangan ditanya bagaimana perasaan saya. Dua hari saya males ngapa-ngapain. Setiap kali ingat, saya pengen nangis. Kalau dihitung-hitung, harga laptopnya sih tidak seberapa dengan data-data di dalamnya. Laptop yang sudah menemani saya empat tahun lebih itu menyimpan banyak kenangan dan perjuangan. Data-data research, project jaman elektro, robotic, Proposal, Data administrasi Makrab, juga poject majalah yang harusnya April ini terbit hilang tak bersisa. Yang paling nyesek, album keluarga, kumpulan jurnal dan tulisan-tulisan yang saya tulis juga ikut digondol maling. Nangis kejer kalau diingat-ingat.

Bukannya nggak ikhlas. Tapi yaaaa masa’ logis gitu kalau laptop saya hilang dengan semua data yang hampir tidak ter backup itu [dan kebanyakan data pekerjaan], saya malah ketawa-ketawa girang?  Perlu waktu gais, buat mengikhlaskan.

Di malam kelangan itu, saya cuma bisa nangis sambil berharap malingnya dengan berbaik hati mengembalikan. Atau data-datanya aja wes. Duh yaaa, walau harapan untuk kembalinya sebuah laptop yang hilang sangat kecil.

Malam itu saya menerima banyak dukungan semangat dari orang tua saya yang berkali-kali telpon. Oom saya yang ngechat saya lewat facebook sampai nggak tega ngomong karena tangis saya langsung meledak waktu dia telepon. Si Abim yang katanya langsung konfirmasi ke papa saya. Ah itu anak mah, paling takut kehilangan data-data game nya. Heuh heuh. Teman terbaik saya yang selalu menjadi kekuatan, Jef dan Huda. Juga si Zanzan yang memberikan semangat lewat WA sambil sok-sok perhatian ‘Udah nggak usah sedih, ada aku…’ Hlah biasanya nggak ada dia juga saya senang-senang aja. Dan rekomendasi untuk dengerin lagu Don’t cry nya Guns ‘N Roses yang katanya mewakili suara dia malam itu malah bikin saya makin mewek. Lucunya, pas dia nyuruh saya nonton Stand up Comedy … ada salah satu peserta yang nyinggung laptop hilang. Jiahhhh gagal deh mencoba lupanya.

Yah, namanya kelangan itu nggak enak. Percaya deh gais. Semoga ini jadi pelajaran supaya kita menjaga apa yang kita punya, dan sadar bahwa segala yang kita punya cuma titipan yang bisa saja pergi meski sudah mati-matian kita jaga. Atau mungkin harus kehilangan dulu biar tahu arti dari menjaga?

Penampakan si boo di hari-hari terakhirnya bersama saya :(



P.S. : Dengan senang hati menerima kebaikan siapapun yang mau mensponsori laptop baru :P

Maret 22, 2014

When Your Friend Treat You Like Family

Dalam keadaan seperti ini, beberapa deadline jadi menganggur. Padahal banyak hal yang harus segera saya rampungkan. Saya juga tidak mau menyalahkan siapapun, walau sedikit masih gondok karena siang kemarin yang mustinya stay di rumah malah ngiyain ngisi acara. Gimana lagi, mau nolak tawaran yooo nggak enak hati karena ada embel-embel 'saya percaya kamu'. Dan yess, akhirnya ngedrop.

Biar begitu, saya mendapat banyak cinta dari teman-teman saya saat berada dalam kondisi kurang baik begini. Merekalah yang saya sebut sebenar-benarnya teman yang memperlakukan temannya dengan baik layaknya seperti keluarga sendiri.

Untuk kalian, semoga senantiasa diberi kesehatan :)