September 25, 2014

XOXO – X for Kiss, O for Hug



Bagi kalangan K-Popers, apalagi EXO-L, dapat dipastikan tidak asing dengan istilah XOXO. Selain karena xoxo merupakan kode untuk kiss & hug, xoxo juga merupakan judul album pertama boy band EXO.

Saya akan bercerita sedikit tentang xoxo terlepas dari apakah saya seorang EXO-L atau bukan. Setelah lebih dari setahun lalu rilis, saya baru menyempatkan diri untuk mendengarkan keseluruhan album ini. Dan saya harus bersorak, konsep album ini luar biasa! Daebak!

Album XOXO di mulai dengan single WOLF yang kalau boleh saya bilang, lagunya sangat unik dan dance lagu wolf juga terkonsep luar biasa. Di mulai dari para member yang membentuk pohon dan gua seperti penggambaran seekor wolf yang tinggal di hutan dengan pohon rindang dan didalam gua. Mereka juga membentuk telinga serigala dan bertingkah seperti wolf. Saya harus bilang, saya jatuh cinta pada XOXO. Di lagu growl, mereka menampilkan dance yang luar biasa dan bekerja sangat keras untuk pengambilan one take shoot video klipnya.

Di album ini EXO juga hadir dalam konsep anak sekolahan yang sesuai dengan usia mereka. Album XOXO dengang tagline first class of exo. Para member mengenakan seragam sekolah dan seragam baseball lengkap dengan topi. Masing-masing mereka memiliki nomor punggung spesial untuk kostum mereka. Nomor-nomor tersebut dipilih sendiri oleh member sebagai nomor favorit mereka. Seperti Suho yang memilih nomor 1 sebab ia seorang leader, orang pertama yang akan berbicara, dan merupakan trainee pertama dan terlama di exo. Atau Sehun yang belakangan namanya tenar di Indonesia karena memakai sandal jepit keluaran Indonesia kemana-mana, memilih mengenakan nomor 94 di punggungnya. Tampak seperti ingin menunjukkan kalau dia member yang lahir pada tahun 94 dan seorang magnae group. Sedangkan 88 dipilih sebagai nomor general EXO. 88 juga merupakan kode untuk kiss & hug. Dan 8 merupakan angka yang digambarkan sebagai sesuatu yang tanpa akhir. Lagi-lagi konsep xoxo.

Jika diperhatikan, keseluruhan track dalam xoxo seperti sebuah dongeng atau fairy tale. Seperti  dongeng beast and beauty jika menggabungkan antara wolf, growl dan let out the beast, dongeng peterpan, black pearl, ataupun mermaid dalam lagu baby don’t cry yang demi apa lagu ini very touched.


Beberapa lagu dengan tempo cepat seperti lucky juga sangat enak untuk didengarkan. Dan jangan lupakan dua lagu spesial yang ditujukan untuk penggemar mereka, 3.6.5 dan XOXO yang mempresentasikan album xoxo dan exo itu sendiri. Selebihnya, xoxo adalah album yang benar-benar terkonsep dan enak untuk dinikmati. 

September 22, 2014

Military Life - Story from Indonesian Air Force Academy




Akademi Angkatan Udara (AAU) beberapa hari lalu menyelenggarakan kegiatan English Camp dengan mengundang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta, salah satunya kampus saya.

Kegiatan ini sangat positif mengingat betapa pentingnya bahasa Inggris di era sekarang yang serba global. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang untuk mengenalkan akademi angkatan udara sebagai salah satu bagian dari pendidikan di Indonesia dalam mencetak seorang perwira TNI. Secara nggak langsung, saya belajar bagaimana teman-teman AAU menempuh pendidikan di Indonesian Air Force Academy yang mana mereka disiapkan untuk menjadi perisai pertahanan bangsa dan negara.

Jika biasanya orang-orang macam perwira, prajurit atau TNI dikenal dengan muka-muka sangar dan gaya tegapnya, di kegiatan ini saya melihat sisi friendly dan humoris teman-teman AAU. Bahkan mereka membuktikan kalau mereka juga bisa bercanda ketawa-ketiwi, hanya saja jika dalam situasai ‘SIAP’, mereka ini benar-benar harus siap. Masa’ iya menye-menye?? Kan nggak mungkin.

Nah, teman-teman AAU ini sangat friendly. Saat kegiatan fun games, mereka benar-benar lucu dan baik. Ceritanya kita main permainan ala tujuh belasan macam tarik tambang, gigit koin, dll. Katanya sih mereka udah lama nggak ikut main beginian. Mereka semangatnya luar biasa gokil!. Selain itu, saat panitia meminta mahasiswa undangan dan teman-teman AAU duduk membaur, mereka langsung berdiri dan menyediakan space bagi mahasiswa undangan untuk duduk diantara mereka. Mereka kelihatan bersemangat sekali. Banyak tanya tentang kehidupan seorang mahasiswa, dan banyak berbagi tentang kehidupan mereka yang sudah empat tahun di AAU.

Diantara mereka bahkan ada yang nyeletuk ke saya “Kamu nggak nyangka kan di area yang kalau dari jalan raya kelihatan sepi ternyata ada kehidupan?”

Saya ngangguk.

Saya juga tertarik sekali dengan cerita-cerita mereka yang selama empat tahun menempuh pendidikan, ikut pelatihan, hadir dalam upacara-upacara penting, sampai ikut mengawal petinggi Negara.

Namanya juga hidup dalam kemiliteran, kehidupan teman-teman AAU ini benar-benar rapi dan disiplin!. Pagi, siang, malam, mereka latihan. Kita yang mahasiswa mau nggak mau harus ikut aturan juga. Contohnya untuk urusan sarapan, masalah waktu, aktivitas, rolling call (Mereka kalau pagi, siang, malam ada semacam apel gitu untuk tahu kelengkapan tim dan mengecek mana tau ada yang sakit), soal kebersihan kamar, tata cara sopan-santun (mengingat di kehidupan militer urusan senior-junior kental), sampai urusan jalan.


Jadi, satu hal yang saya yakin bakal saya kangenin adalah kegiatan jalan berbaris bareng kalau mau kemana-mana. Awalnya aneh, ngapain ini orang-orang jalan musti baris dan bareng-bareng? Tapi akhirnya malah merasa aneh sendiri kalau jalan sendiri. Kata mereka, hal ini bisa melatih hidup rapi, disiplin, dan mau dipimpin. Keren!

Sekilas, segala aturan dan kegiatan di AAU mengingatkan saya pada jaman-jaman SMK. You know, sekolah saya termasuk sekolah yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Pelatihan ala militer sudah biasa. Temenannya aja sama Yonif. Hehehe.

Overall, thank you very much for a bunch of new experience, dear my friends from Indonesian Air Force Academy. Gonna miss you all <3>

September 15, 2014

Sebungkus Kangen dari Pasar Kangen Jogja 2014


Jogja istimewa. Keseniannya, jalannnya, jajanannya, budaya, batik, andong, becak, laut, gunung, dan malioboro nya adalah benih-benih kangen. Bagi saya, Jogja itu lahan kangen yang subur. Sekali kamu pernah singgah di Jogja, kamu akan tertarik berkunjung lagi kesana untuk menuai kangen.

Sayangnya, seiring perubahan zaman Jojga mulai berubah. Jalalanannya semakin macet bukan karena Andong dan becak yang lalu lalang di jalanan, tapi karena mobil dan motor berplat pribadi yang ribut saling salip. Kini pun semakin sulit melihat keramahan orang-orangnya sebab sudah banyak pendatang dari berbagai daerah. Makanan dan jajanan  tradisionalnya mulai tergusur restoran dan cafĂ© yang menyediakan menu western. Batik? Ah, baju mode terbaru keluaran butik sepertinya jauh lebih dinikmati.

Maka, untuk menuntaskan rasa kangen pada Jogja yang dulu, digelar sebuah Pasar dengan nama Pasar Kangen Jogja. Pasar kangen Jogja biasa diadakan setahun sekali di taman budaya Yogyakarta. Tahun ini, Pasar Kangen Jogja diselenggarakan pada 18  sampai tanggal 24 Agusutus 2014 lalu. Lumayan untuk melihat bagaimana Jogja tempo dulu.

Di Pasar Kangen Jogja, kalian akan menemukan aneka stand-stand unik yang dihias dengan kain batik, anyaman, tulisan jawa dan dedaunan. Tak heran jika pemandangan yang terlihat adalah pasar serupa jaman kuno. Jualannya pun jajanan dan makanan tradisional (yang kebanyakan saya tak tau namanya) yang mungkin tidak akan kita temukan di tempat lain. Bisa jadi pula ada jajanan masa kecil yang akan membuat kita kangen Jogja yang dulu.

Selain itu, ada pula yang berjualan barang-barang kuno seperti perabotan, benda-benda, koran, baju-baju model lawas, sampai koin dan uang lembaran jaman dulu. Tak hanya berjualan, di bagian depan pasar juga dibuat panggung yang mementaskan pagelaran jawa semacam tari, wayang, drama, lengkap dengan musik gamelannya. Apa yang tampak benar-benar sebuah pemandangan tempo dulu. Pasar Jogja 2014 Seperti menceritakan bagaimana Jogja dan Indonesia dahulu kala. Kita generasi muda belajar sejarah dari pasar semacam ini.

September 05, 2014

Jika Kamu adalah Pagi


Jika kamu adalah pagi, maka aku akan bersembunyi dibalik pelukmu.
 Dadamu hangat, pelukmu makin erat.

Jika kamu adalah pagi, 
maka aku akan meneguk pahit dari pinggir bibirmu. 
Mengisapnya dengan pelan sebelum pergi mandi.

Jika kamu adalah pagi, maka candamu yang muncul dalam kotak komedi. 
Aku menatap padamu yang berlari kesana-kemari menarik perhatianku untuk tidak pergi mandi.

Jika kamu adalah pagi, detakmu adalah alarm Penuh rayu. Mandiku jadi terburu-buru.

Jika hari ini kamu adalah pagi… 
Ah, aku bangun kesiangan!! 
Kamu telah pergi. Aku ditinggalkan pagi.


September 03, 2014

Cinta Pada Realita tak Sedramatis Bait-bait Puisi Kita



Aku ingat pernah bertukar sajak pada pria yang begitu ku kagumi di bawah langit yang berbeda. Langitku gelap, dihiasi gemerlap bintang dan bulan yang nyaris separuh penuh. Disana langitnya terang diselimuti awan berarak. Aku berdiri di bibir pantai dengan hanya deburan ombak yang terdengar dan dia (kukira) sedang duduk diatas rumput halaman kampusnya, berteduh dibawah rindang pohon yang sejuk.  Tempat favoritnya kalau menyempatkan waktu untuk chatting dan video call-an bersamaku.

Sajak-sajak yang ku kirimkan padanya selalu dramatis, dan dia yang aku tahu tak begitu menyukai dunia penuh kata-kata mencoba membalas sajak-sajak itu dengan payah. Kami bicara alam, bicara cita, bicara manusia, bicara cinta. Makin lama sajak-sajak itu memenuhi kotak pesan, berubah menjadi puisi dan antologi yang tanpa kami duga bait-bait dramatis itu kelak akan kami kenang lewat senyum kala membacanya kembali. Mungkin saat perasaanku sudah seperti semak-semak tak terurus, mungkin juga saat kami sudah lupa pada siapa bait-bait puisi itu ditulis.

Pada liburan musim panas empat tahun lalu pria itu pulang. Saat itu dia sudah duduk di tahun terakhir kuliahnya. Kupikir Ia pulang untuk menemuiku, tapi kukira Ia tak sungguh-sungguh pulang. Ia bahkan tak menghubungiku nyaris satu bulan sebelum kepulangannya. Andai temanku tak memberitahu, mungkin aku masih mengiriminya pesan tengah malam supaya sempat dia baca ketika tidak kuliah, atau mengiriminya pesan siang bolong hanya untuk mengucapkan ucapan selamat pagi dan embel-embel penyemangat lainnya. Walau jelas hal itu hampir jarang kulakukan karena diriku yang mulai frustasi tak mendapat respon apa-apa.

Beberapa kali kukirimi dia pesan. Aku merengek memintanya untuk bertemu. Mungkin sudah lelah, dia memberikanku sebuah alamat lengkap dengan waktunya. Pada pertemuan sore itu Ia berpenampilan rapi seperti waktu terakhir aku ikut mengantarnya ke Bandara. Pria itu hanya tersenyum tipis saat aku dengan begitu ceria melambaikan tangan padanya. Tak banyak yang kami bicarakan. Dia hanya menanyakan kabar sekolahku (tanpa bertanya kabarku) dan menanyakan kabar kedua orang tuaku. Dia juga bercerita ngalur ngidul tentang project akhirnya yang tak ku mengerti. Aku sedih dia sama sekali tak membahas hujan, payung, pasir, rindang pohon, dan segala hal dalam sajak-sajak kami.


Perbincangan kami sore itu ditutup dengan saling mendiamkan. Semenit kemudian dia menghentikan sebuah angkutan umum yang tak begitu penuh. Ada seorang ibu bersama balitanya dan tiga anak sekolahan didalamnya. “Pulanglah dulu”, katanya sambil membukakan pintu angkutan umum itu dan membimbingku masuk. Aku tak mengerti mengapa waktu itu aku menuruti perintahnya dan tak berusaha bertanya mengapa Ia tak ikut pulang bersamaku. Aku bahkan tak menoleh lagi saat angkutan umum itu mulai melaju, dan pria itu pun mulai menjauh.

Agustus 25, 2014

A lady from Modern Times




Modern Times. Sebuah film layar lebar era 1930-an yang diperankan oleh aktor nyentrik, Charlie Chaplin. Ia dikenal lewat perannya sebagai Chaplin the tramp dalam setiap film bisunya. Film ini berkisah tentang kehidupan sosial warga Amerika Serikat di tengah hangat isu mengenai masalah pekerja dan sistem Kapitalisme yang berpengaruh pada nasib buruh disana kala itu. Nyaris 100 tahun kemudian seperti ingin menuangkan kerinduan, era modern times dibungkus penuh harmoni oleh ex Korea’s ‘nation little sister’, IU.

IU pada awal kemunculannya seperti membawa pendengar musiknya bermain dalam sebuah taman fantasi. Gaya nya yang cute dengan vokal 4 oktaf  yang luar biasa selalu membuat saya takjub setiap mendengar dia bernyanyi diiringi musik orkestra yang mewah; sebut saja dalam lagu last fantasy, you and I dan good day. Namun imej cute itu seolah gugur dalam album Modern Times. Lupakan music pop dance ala K-Pop, klasik dan iringan orkestra yang wah. Bersama musiknya, IU telah tumbuh menjadi wanita dewasa and become more classy dalam balutan musik Swing Jazz dan Bossa.

Musik jazz dengan irama vulgar dan bebasnya yang selalu lekat dengan sebutan musik kaum elite ini seperti pas untuk mewakili sosok wanita dewasa era modern times yang digambarkan sebagai wanita mapan yang mengerti fesyen, bergincu merah dan seksi. Dan ketika album modern times terdengar dengan suara IU yang nakal dan menggoda, seketika latar berubah menjadi hitam putih. Saya duduk sendiri dalam sebuah bar, berubah menjadi wanita dengan gincu merah diantara kerumunan pria bertuksedo dan wanita-wanita dengan dress dan gincu merah menyalanya. Mereka beradu tawa, mungkin juga sembari menikmati segelas chardonnay. Ditengah-tengah kami, IU menyanyikan between the lips dilanjutkan dengan Everybody has secrets dengan berani.

Tiba-tiba sosok Chaplin the tramp muncul dalam lagu modern times. Kali ini ia tak membawa tongkatnya. Hanya bertepuk tangan gembira. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling saya sukai. Dan hal yang saya tangkap dari lagu yang menyebut nama Mr. Chaplin pada bait liriknya ini adalah dalam suasana yang ceria sekalipun orang dapat merindu diam-diam.

Pria yang duduk di seberang yang sedari tadi melempar senyum tampak mendekat. Sebelum tiba-tiba berbelok dan menghilang. Ketika merenungi pria itu, the red shoes membawa saya ikut menghentak-hentakkan kaki. Lagu ini kemudian mengajak saya lari dari kesepian. Mungkin seperti berkaca atau sedang melihat pantulan diri sendiri. Saya wanita yang lebih berani untuk jatuh cinta. Bukankah ditempat seperti ini pria dan wanita boleh jatuh cinta dalam sekali pandang? Mungkin the red shoes akan membawa saya padanya. Hentakan spontan yang muncul dari saxophone terus membuat saya melangkah, semakin cepat. Mungkin jatuh cinta biasa se-spontan itu.

Pada lagu-lagu berikutnya, saya seperti berkomunikasi dengan piano, gitar, drum, saxophone, atau sekedar suara bisikan. Lagu lainnya membiarkan saya ikut larut dalam suasana  Amerika, perancis atau venice pada tahun 1930-an. Siapa yang tau ada rasa kehilangan di setiap petikan gitar Love of B. Seperti sebuah rasa yang aus karena basi – atau bisa jadi bosan.


IU seperti menyuguhkan sebuah drama berkelas dalam Modern Times. Mendengarkan keseluruhan lagunya seperti menyaksikan wanita dewasa merayakan patah hati dengan damai dan elegan. Seperti Obliviate yang serupa mantra untuk melupakan luka. Serangkaian lagunya terus berulang – Nakal dan spontan!