INSIDE OUT : Bahwa Hidup Tidak Melulu Soal Bahagia




Bahwa hidup tidak melulu soal bahagia. Satu poin yang keluar begitu saja setelah menonton film produksi Pixar: Inside Out. Mr. Collin said that one of the best hings a film can do is make you cry. Salah satu kelebihan yang bisa dilakukan sebuah film adalah membuat siapapun yang menontonnya menangis. Dan emosi sedih seketika meluap di puncak klimaks film.

Diawal saya menonton film ini dengan terkantuk-kantuk. Selain karena efek mengkonsumsi Alpara, cefadroxil, dan dexaharsen, juga karena kami memilih menonton di jam yang cocok untuk rebahan di bawah selimut. Bukan di ruangan sedingin teater 2 CGV blitz. 'Terserah deh kalau sampai ketiduran. Kan bayarnya pake poin gratisan dari booth promosi sunmor kemarin'. Pikir saya simple. Tapi lucunya para 'emosi' dan bisingnya Ela, Depi, sama Uncle yang cekikikan ngekomentarin tiap scene film membuat saya  pada akhirnya tertarik untuk mengikuti  jalan cerita inside out.  

Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust adalah para emosi yang mengisi kepala Riley, seorang gadis kecil yang selalu tampak ceria karena Joy mendominasi emosi Riley dan menjadi pemimpin bagi emosi-emosi yang lain. Sampai suatu hari Riley bersama kedua orang tuanya pindah ke San Francisco dan konflik mulai bermunculan dari teledornya sadness yang bikin kami sebel misuh-misuh (Padahal ternyata kami nggak paham dengan tujuan Sadness), Joy dan sadness yang tertarik ke gudang memori karena ingin menyelamatkan core memory, Sadness yang dianggap membahayakan bagi Riley oleh Joy, sampai nggak terkontrolnya emosi Riley karena Fear, Anger dan Disgust kebingungan menentukan sikap. Semua hal itu menyebabkan satu persatu personality Riley seperti kekeluargaan, Persahabatan, Kejujuran, dan Hobi roboh. 

Film ini ibarat menceritakan ujian pertama seorang Riley dalam memasuki fase pertumbuhan beranjak remaja. Emosi Riley mulai bergejolak. Riley berubah menjadi gadis pemarah, tidak jujur, dan tampak murung. Fakta bahwa film ini dibuat dengan dasar riset dan berlandaskan teori psikologis yang melibatkan ilmuwan ahli kejiwaan menambah unik film ini karena secara tidak langsung para penontonnya disuguhi pengetahuan psikologi yang dibungkus secara sederhana, ringan dan mudah dipahami melalui karakter imajinative para emosi.

Dari film ini pula saya jadi berkaca pada beberapa emosi yang kadang saya tunjukkan. Kemudian muncul pertanyaan, lalu siapa yang sebenarnya mengatur emosi kita? apakah emosi-emosi itu adalah diri kita sendiri? Bukankah kita sendiri yang mengontrol emosi kita? Apakah emosi yang mendominasi karakter saya memiliki emosinya sendiri untuk menentukan emosi saya? Dan pertanyaan saya itu kemudian dijawab oleh sang Sutradara: Peter Doctor, yang ternyata secara sengaja menghapus 'Logika' dari deretan emosi untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan konyol tadi. 

Film ini ditutup dengan bertambahnya pengaturan emosi milik Riley. Ibarat seorang remaja yang terus tumbuh, emosinya mulai kompleks seiring dengan masalah yang mungkin muncul dalam kehidupannya. Dan scene tambahan yang bikin lucu adalah diperlihatkannya isi kepala beberapa tokoh lain yang nggak kalah menarik dari milik Riley.

Keluar dari pintu teater, kita senyum-senyum membayangkan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala orang-orang juga diri sendiri seperti yang langsung dipraktekan oppa sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. Kembali pertanyaan Joy terngiang: Do you ever look at someone and wonder what is going on inside their head? Kalau pertanyaan diajukan saat saya melihat ke arah oppa, yang saya lihat isi kepalanya mesum semua, atau isi kepala yang dipenuhi Clash of Clan kalau melihat kearah uncle. #Kidding.

Lagi, film ini membuat saya berpikir bahwa hidup tidak boleh soal bahagia melulu. Ada peraaan dan emosi lain yang juga harus dieskpresikan dengan bijak: marah, sedih, malu, bingung, ragu, dll. Sebuah film yang unik, menyenangkan, dan penuh imajinasi.

Fakta lebih banyak dari film Inside Out bisa dilihat di imdb

Tags:

Share:

0 comments

Any Comment?