List Your Wish: Perjalanan Nyaris Gratis ke Kota Melbourne


Menuliskan harapan-harapan kecil adalah kebiasan saya. Sebenarnya Itu bermula dari kegemaran menulis buku harian. Saya suka menulis harapan saya untuk hari besok. Kadang saat naik kelas atau mendekati hari ulang tahun, saya suka menulis harapan apa yang ingin saya capai, kadang juga hadiah apa yang ingin saya dapat. 

Tumbuh semakin dewasa, harapan-harapan kecil itu juga tumbuh menjadi harapan-harapan lain yang lebih besar. Salah satunya saat saya duduk di bangku kuliah.

Kampus saya yang letaknya di kaki gunung menawarkan program magang dan double degree di beberapa negara seperti Korea, Thailand, China, Australia, dan lain sebagainya. Maklum, kampus saya mendukung penuh kegiatan kampus yang orientasinya ke luar negeri. Slogan andalannya adalah go global.
  
Pada tahun kedua saya berani menuliskan harapan saya untuk ikut seleksi. Saya tulis 'AUSTRALIA' besar sekali di buku harian. Tidak ada yang tahu. Tidak pula saya gembar-gemborkan kalau saya akan ikut seleksi. Tapi memang bukan zona waktu saya untuk ikut seleksi tahun itu.  Sebuah insiden membuat saya harus menunda mewujudkan harapan soal Australia.

Banyak yang heran dan menyayangkan kenapa saya tidak ikut seleksi. Bahkan seorang kakak tingkat yang merupakan alumni magang Australia menyudutkan keputusan saya. 'Kamu mahasiswi potensial. Kenapa nggak coba apply? Si anu yang mahasiswa baru saja sudah berani. Buat apa kuliah empat tahun kalau cuma jadi mahasiswa biasa saja?' katanya saat itu. Ucapannya memang menusuk. Walau dia tidak tahu alasan kenapa saya tidak mendaftar, kata-kata itu seperti cambuk yang menyadarkan saya untuk tidak menjadi mahasiwa biasa saja.

Di tahun berikutnya, saya mencoba untuk mendaftar. Seleksi demi seleksi yang begitu ketat, menantang, menghabiskan waktu enam bulan, presentasi ini itu, menyiapkan banyak hal yang membuat saya stres, semuanya saya ikuti. Akhirnya, saya mendapat telepon kalau saya menjadi salah satu penerima beasiswa magang di Melbourne, peringkat pertama pula. Kecuali visa dan uang saku untuk foya-foya pribadi, seluruh akomodasi keberangkatan saya ditanggung kampus. Saya terharu.

Saya membuka lagi tulisan AUSTRALIA itu. Saya percaya, sesuatu yang sudah kita niatkan, kita tuliskan dengan realistis, terukur, dan jelas, sesuatu yang kita usahakan, suatu saat akan terwujud nyata. Hanya soal di zona waktu mana kamu bekerja. Karena semua orang punya zona waktunya sendiri agar semua harapan dan mimpinya dilepaskan Tuhan pada waktu yang tepat. 




Share:

0 komentar

Any Comment?