Mau Dengar Cerita Kami?


PS: postingan ini lanjutan dari post sebelumnya.
_ _ _ _ _ _ _ _ _

Jogja atas, 26 September 2015

Di masa-masa menikmati status sebagai mahasiswa tua seperti ini, saya kangen pria berkacamata yang hari itu sudi nyamperin dan nemenin saya di bandara pagi sekali.  

Kalau saja hari itu dia nggak bawain buku anak kos dodol sebagai bahan bacaan di pesawat, mungkin gambaran cerita tentang kedodolan anak-anak kos Jogja nggak pernah terlintas apalagi terbayangkan. Dan ternyata kedodolan anak kos itu emang ada.

Kosan berlantai dua dengan warna krem di jl. Landai tampak kumuh diantara kos-kosan exclusive bertarif belasan juta pertahun yang dibangun megah disekitarnya. Tidak ada fasilitas laundry, AC, kamar mandi dalam, apalagi Wifi. Penghuninya yang rata-rata aktivis kampus dan jarang pulang makin memperburuk kondisi kosan itu. Membuat banyak mahasiswa kampus elit ini males menoleh dan memandang ngeri kos itu.

Kenapa saya memilih tinggal disana? Well, itu sih cerita lain. Yang jelas, di kos itulah saya bertemu dengan Nini, Dian, Yola, Rina, dan Tria. Teman kos, yang akhirnya terasa seperti keluarga sendiri. Bersama mereka saya melakukan hal-hal konyol. Ngerumpi sampai malam padahal ada deadline tugas jam 12 malam, atau besoknya kuliah jam 7. Ngegosipin mbak-mbak kos yang garang, sampai ngegosipin temen sekosan yang ngibulin orang tuanya di kampung. Nonton konser boyband di tivi sampai teriak-teriak. Masak-masak bareng dengan kompor listrik yang musti nunggu sejam baru panci nya panas. Ngobrol asik sambil cuci baju. Nyari makan malam gerombolan di jalanan depan kampus, diem-diem ngeduplikat kunci gerbang biar bisa pulang tengah malem, sampai keluyuran keliling Jogja pakai angkutan reyot dan Trans Jogja.

Sampai suatu hari ketika kita diusir secara semena-mena oleh ibu kos karena alesan kepemilikan kos sudah pindah tangan, kami memutuskan untuk tinggal satu rumah lagi. Kecuali Rina. Dia mengikuti nasihat bapaknya untuk tinggal di kos yang lebih layak.

Dear mas berkacamata,


Cerita kedodolan versi kami masih berlanjut sampai sekarang. Dan sampai sekarang, belum ada kesempatan kita untuk bertemu lagi. Padahal masih ada sesuatu yang kamu tinggalkan disini.


-eL

Share:

0 comments

Any Comment?