Cinta Pada Realita tak Sedramatis Bait-bait Puisi Kita



Aku ingat pernah bertukar sajak pada pria yang begitu ku kagumi di bawah langit yang berbeda. Langitku gelap, dihiasi gemerlap bintang dan bulan yang nyaris separuh penuh. Disana langitnya terang diselimuti awan berarak. Aku berdiri di bibir pantai dengan hanya deburan ombak yang terdengar dan dia (kukira) sedang duduk diatas rumput halaman kampusnya, berteduh dibawah rindang pohon yang sejuk.  Tempat favoritnya kalau menyempatkan waktu untuk chatting dan video call-an bersamaku.

Sajak-sajak yang ku kirimkan padanya selalu dramatis, dan dia yang aku tahu tak begitu menyukai dunia penuh kata-kata mencoba membalas sajak-sajak itu dengan payah. Kami bicara alam, bicara cita, bicara manusia, bicara cinta. Makin lama sajak-sajak itu memenuhi kotak pesan, berubah menjadi puisi dan antologi yang tanpa kami duga bait-bait dramatis itu kelak akan kami kenang lewat senyum kala membacanya kembali. Mungkin saat perasaanku sudah seperti semak-semak tak terurus, mungkin juga saat kami sudah lupa pada siapa bait-bait puisi itu ditulis.

Pada liburan musim panas empat tahun lalu pria itu pulang. Saat itu dia sudah duduk di tahun terakhir kuliahnya. Kupikir Ia pulang untuk menemuiku, tapi kukira Ia tak sungguh-sungguh pulang. Ia bahkan tak menghubungiku nyaris satu bulan sebelum kepulangannya. Andai temanku tak memberitahu, mungkin aku masih mengiriminya pesan tengah malam supaya sempat dia baca ketika tidak kuliah, atau mengiriminya pesan siang bolong hanya untuk mengucapkan ucapan selamat pagi dan embel-embel penyemangat lainnya. Walau jelas hal itu hampir jarang kulakukan karena diriku yang mulai frustasi tak mendapat respon apa-apa.

Beberapa kali kukirimi dia pesan. Aku merengek memintanya untuk bertemu. Mungkin sudah lelah, dia memberikanku sebuah alamat lengkap dengan waktunya. Pada pertemuan sore itu Ia berpenampilan rapi seperti waktu terakhir aku ikut mengantarnya ke Bandara. Pria itu hanya tersenyum tipis saat aku dengan begitu ceria melambaikan tangan padanya. Tak banyak yang kami bicarakan. Dia hanya menanyakan kabar sekolahku (tanpa bertanya kabarku) dan menanyakan kabar kedua orang tuaku. Dia juga bercerita ngalur ngidul tentang project akhirnya yang tak ku mengerti. Aku sedih dia sama sekali tak membahas hujan, payung, pasir, rindang pohon, dan segala hal dalam sajak-sajak kami.


Perbincangan kami sore itu ditutup dengan saling mendiamkan. Semenit kemudian dia menghentikan sebuah angkutan umum yang tak begitu penuh. Ada seorang ibu bersama balitanya dan tiga anak sekolahan didalamnya. “Pulanglah dulu”, katanya sambil membukakan pintu angkutan umum itu dan membimbingku masuk. Aku tak mengerti mengapa waktu itu aku menuruti perintahnya dan tak berusaha bertanya mengapa Ia tak ikut pulang bersamaku. Aku bahkan tak menoleh lagi saat angkutan umum itu mulai melaju, dan pria itu pun mulai menjauh.

Share:

2 comments

Any Comment?