Menyendiri Semalam

Diantara banyak hal, menyendiri jadi kebiasaan yang mengasyikkan akhir-akhir ini. Terutama ketika pikiran kosong sekalipun sekitarmu dipenuhi suara.
Seperti malam ini, saya memilih berseorang diri mengendarai sepeda motor tanpa tahu hendak kemana. Dalam perjalanan, saya merenung pada hal-hal yang saya lihat. Jalan kaliurang yang macet, klakson kendaraan bersahutan dijalan, pengamen yang beraksi di lesehan pinggir jalan, dan para pengayuh sepeda yang beradu kencang dengan kendaraan bermesin. Dan akhirnya, renungan jatuh pada betapa sibuknya kota ini.
Lucunya, pikiran saya tak mau lepas kontrol. Ia tahu kemana kendaraan saya diarahkan. Ya, pada satu-satunya tempat yang selalu jadi persinggahan menyepi. --Toko Buku. Kalau kalian ingin tahu, belakangan saya sedang rajin ke toko buku.
Toko buku di daerah Gejayan itu selalu ramai. Cuma mereka tak bersuara. Hal mengapa saya senang berlama-lama disana. Selain menikmati aroma tumpukan buku, saya juga pengen nongkrong di kafe lantai dua toko buku itu. Sayang, pas saya sendirian duduk di salah satu kursinya, mas-mas pelayan kafe itu tak bisa berhenti melirik kearah saya. Mungkin dia tak pernah dapat kunjungan pelanggan yang datang seorang diri. Hugh!

Share:

0 komentar

Any Comment?