Being Twenty

Bulan April kembali membawa cerita tentang anak perempuan yang bertambah usia. Anak perempuan papa yang sudah tidak doyan lagi menangis karena berebut mainan dengan Sobah, tapi masih suka ngambek kalau dicuekin. Anak perempuan papa yang sudah diributkan dengan urusan perasaan macam cinta. Anak perempuan papa, yang jadi suka menangis karenanya.

Menjadi dua puluh adalah suatu hal yang saya tunggu dari usia 6 tahun. Kamu bisa melakukan banyak hal. Pilihan yang kamu ambil dianggap benar. Kamu sudah punya hak menentukan akan seperti apa kamu. Dan kamu bisa jatuh cinta pada siapapun. Begitu pikir saya. Nyatanya usia dua puluh jauh lebih liar. Dia menguji dengan kehilangan. Saya dituntut belajar mengikhlaskan. Saya akrab dengan pengabaian. Saya belajar untuk mencintai apa yang tidak saya cintai, dan belajar untuk menjadi lucu kalau kalian ingin tahu. Bagian yang menyebalkan! Sungguh. Lucu 'kan tidak bisa dibuat-buat. 

Usia dua puluh di mata saya dipenuhi dengan orang-orang serius. Mereka yang ambisius dan menatap ke depan. Mereka yang melakukan banyak hal hebat dengan tergesa-gesa, atau sebagian memilih bergerilya. Nyaris membuat saya ngeri karena takut ketinggalan.

 Tapi di usia dua puluh saya juga dikelilingi mereka yang menikmati proses hidup dengan lebih santai, tidak terburu-buru. Yang masih bisa tertawa lepas dan nggak saklek dengan aturan semua harus diseriusin. Bersama mereka, saya menikmati proses bertambah usia ini. Merayakan diri yang menjadi tua. "Teman-teman, mari berbahagia dan merayakan hidup ini dengan tertawa." Doa saya dalam bisikan yang selembut leleh lilin.

Share:

2 comments

Any Comment?