PULANG: #Summer Holiday in Batam

Gambar oleh papa saya
Ada rindu yang menggebu-gebu di bawah langit kota Semarang yang gerimis pagi itu. Langit muram, tapi hati saya tidak. Pagi-pagi sekali saya sudah nangkring di Ahmad Yani International Airport menunggu keberangkatan saya yang masih 4 jam lagi.

Suasana bandara pagi itu mendadak begitu menyenangkan. Saya duduk diatas troli di depan konter check-in. Memaju-mundurkan troli sambil mengamati orang-orang dari pintu masuk yang melewati security chek point. Ada dua perempuan yang terburu-buru masuk sambil menenteng koper orange besar sekali. Nampaknya hampir ketinggalan pesawat. Pria-pria dengan seragam hitam beraksen hijau sibuk menawari para penumpang jasa wrapping secure baggage. Para petugas maskapai di konter check-in sibuk mengurusi antrean penumpang untuk check-in, sambil mengamati timbangan bagasi. Sedangkan informasi keberangkatan dan kedatangan melalui pengeras suara juga berubah menjadi begitu enak di dengar pagi itu. Terlebih lagi ketika pengeras suara itu memanggil penumpang untuk keberangkatan menuju Batam.

Siang pukul setengah satu, pesawat saya terbang menuju Batam. Hanya kurang dari dua jam penerbangan, saya tiba di Hang Nadim International Airport. Ada dua pangeran yang sudah menunggu disana. Adalah dua sahabat baik saya; Jefri dan Huda yang secara khusus saya minta untuk datang menjemput. Saya merasa terharu juga senang sekali. Langit Batam tak semuram di Semarang. Batam cerah dan... panas. Huda bilang saya datang di saat Batam sedang musim panas. Berasa jadi summer holiday nih, mengingat Jogja masih terus-terusan di guyur hujan. 

Setelah satu setengah tahun berhubungan jarak jauh, saya dan Batam akhirnya bertemu. Beginilah saya, yang teramat sangat mencintai pulau ini. Saya telah berjanji pada kota ini, bahwa saya masih akan kembali lagi. Tak peduli betapa sering dia didatangi kemudian ditinggal pergi oleh para pendatang, saya selalu rindu pulang kesini.

Share:

0 comments

Any Comment?