Sebuah Titik Bertanda Henti



Sore yang hujan ketika mekar payungku menuju kesana. Tempat dimana kita saling berteduh menyembunyikan kepala yang penat dan sejenak berbagi sajak. Sore itu, yang kutemukan hanya sebuah titik bertanda henti. Sedang kamu hilang, menyisakan tangisan langit dan raungan petir. Disusul kehilangan-kehilangan yang lain.

Aku terlalu lambat untuk menyadari bahwa segalanya perlahan berubah. Bahwa malam lebih sunyi dari biasanya, dan lebih nyata tak ada lagi ucapan selamat pagi. Disini, kamu bukanlah lagi yang sama seperti waktu dimana kamu masih sama.

Dalam segala waktu kita tak pernah bertaruh untuk sebuah rasa. Sepanjang jalan yang kupelajari hanyalah bagaimana memulai, tanpa kamu ajari sebuah kata 'usai'. Dulu aku diajarkan kata rindu, kini kehilangan yang kamu ajarkan kepada aku.

Ketika segalanya tak lagi terasa sama, tak bisa lagi kita dipaksakan untuk menjadi ada. Biar aku jadi dedaunan dibangku taman. Yang singgah ditiup angin sampai berlalu. Mungkin itu yang kamu mau.





src image: google.com

Share:

0 comments

Any Comment?