Aku, Mereka, Masalah



Aku mendapat pesan singkat. Itu pesan yang kesekian kalinya masuk di inbox ku --dari nomor yang sama. Sehingga Aku tahu isinya hanya untuk memberitahukan bahwa akan diselenggarakan kegiatan akhir pekan dan meminta kami masuk dalam kepanitiaan.

Tidak.

Hatiku menolak untuk datang kesana. Ada banyak faktor yang mungkin mempengaruhi keputusan ini. Seperti, betapa seringnya aku absen disetiap pertemuan atau karena satu hal lain. Pada akhirnya, hal itu ternyata berpengaruh lebih besar.

***

Pada malam hari Sabtu, tepat seminggu setelah kegiatan itu diselenggarakan --dan aku benar-benar tidak datang, tiba-tiba saja Ariana bertanya padaku.


"Kamu datang ke acara itu ?"

"Kamu tahu jawabannya."

"Ya." Ia diam sejenak. "Masih karena masalah itu ? Masih karena mereka ?"

Aku melongo. "Bukan. Aku sibuk. Dan ...." kata-kataku terhenti. "Dan mereka bukan masalah"

Anne yang sedari tadi hanya mendengarkan tertawa meledek. Dia sadar betul aku gelagapan. Ariana ikut tertawa. Kemudian mengatakan satu hal yang membuatku tak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Kuharap itu bukan alibimu agar aku tak menganggapmu kurang profesional. Tapi mungkin sekarang mereka bukan masalah lagi untukmu."

"Maksud kamu ?" 

"Mereka sudah tidak bersama"
 Ariana menekuk kakinya, menyandarkan dagunya dilutut. Mengambil sekeping keripik pedas.

 "Itu terlalu cepat !" Aku menekan nada bicaraku. Kikuk.

 "Aku sedih. Kadang begitulah cerita," Aku mengerti perasaan Ariana. Kami sedang membicarakan teman karibnya. Tapi tak bisa kupastikan benar tidaknya apa yang dia katakan. Hanya menduga-duga berbagai hal. Perasaanku tak menentu. 

"Jadi bagaimana menurutmu ?" tanyanya

"Aku tak tau, Na. Aku tak terlalu mempersalahkan mereka. Bahkan sudah hampir melupakannya." Ucapku bohong. Ariana dan Anne tampak tak yakin.

Bagaimana aku mengaku ? Bagaimana mungkin aku mengatakan kalau selama ini aku hanya pura-pura tampak tak peduli. Pura-pura sibuk, pada kenyataannya aku yang menyibukkan diri agar tak bertemu mereka berdua. Aku menghindar, berharap tak melihat mereka sedang bersama. Bagaimana bisa aku bertemu mereka jika membayangkannya saja aku merasa kehilangan, merasa sesak yang tak berkesudahan. Nyeri yang entah apa obatnya.

"Sekarang tak ada alasan lagi untukmu menghindar, tau' !" Ariana mengambil segenggam keripik pedas. 

"Tidak lagi" 

"Bagus" sahutnya.

Tidak lagi. Aku tidak akan pernah lagi kesana. Aku akan benar-benar meninggalkannya. Meletakkan kepingan kenangan disana dan mengambil pelajaran berharga.

Share:

0 comments

Any Comment?